Ilustrasi perubahan iklim ekstrem di Bumi (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Selama bertahun-tahun, para ilmuwan meyakini Bumi pada masa purba pernah mengalami suhu yang jauh lebih panas dibandingkan saat ini. Namun penelitian terbaru justru mengungkap fakta yang mengejutkan. Bumi ternyata tidak sepanas yang diperkirakan sebelumnya.
Alih-alih menjadi kabar baik, temuan ini justru memperkuat kekhawatiran terhadap perubahan iklim modern. Jika pemanasan global akibat aktivitas manusia terus dibiarkan, suhu Bumi berpotensi melampaui kondisi terpanas yang pernah dialami planet ini selama ratusan juta tahun.
Dikutip dari Earth, penelitian yang dipimpin University of Leeds tersebut merekonstruksi suhu Bumi sepanjang periode Fanerozoikum, yakni sekitar 540 juta tahun terakhir hingga masa kini. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications.
Selama ini sejumlah penelitian memperkirakan suhu Bumi pada beberapa periode geologi pernah mencapai sekitar 20 derajat Celsius di atas tingkat praindustri, bahkan ada yang memperkirakan hingga 30 derajat Celsius lebih tinggi.
Angka tersebut memberi kesan bahwa Bumi mampu bertahan dalam kondisi panas ekstrem selama jutaan tahun. Namun penelitian terbaru menunjukkan gambaran yang berbeda.
Para peneliti menemukan bahwa Bumi memiliki mekanisme alami yang bekerja sebagai "rem iklim", seperti proses pelapukan batuan (rock weathering), yang secara perlahan menyerap karbon dioksida dari atmosfer sehingga membantu menstabilkan suhu global.
Berkat mekanisme tersebut, suhu Bumi selama ratusan juta tahun ternyata berada dalam kisaran yang jauh lebih stabil daripada dugaan sebelumnya.
Tim peneliti menyimpulkan bahwa periode terpanas dalam sejarah Bumi kemungkinan hanya mencapai sekitar 10 derajat Celsius di atas suhu praindustri.
Artinya, suhu maksimum Bumi purba sekitar 10 hingga 20 derajat Celsius lebih rendah dibandingkan sejumlah estimasi sebelumnya.
Meski tetap jauh lebih panas daripada kondisi sekarang, temuan ini menunjukkan bahwa kehidupan di Bumi berkembang dalam rentang suhu yang relatif lebih terkendali.
Penulis utama penelitian, Dongyu Zheng dari Chengdu University of Technology, mengatakan evolusi kehidupan tidak terjadi secara kebetulan.
"Penelitian ini menunjukkan bagaimana batuan purba dan simulasi iklim modern dapat digunakan bersama untuk mengungkap batas-batas iklim Bumi dalam jangka waktu geologis," ujarnya.
Menurut Zheng, berkembangnya kehidupan di Bumi sangat erat kaitannya dengan kemampuan planet ini mengatur suhu secara alami selama jutaan tahun.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang mengandalkan isotop oksigen dalam sedimen purba, studi ini menggunakan pendekatan Chemical Index of Alteration (CIA).
Metode tersebut mengukur tingkat pelapukan mineral pada batuan purba untuk mengetahui seberapa hangat kondisi iklim saat batuan itu terbentuk.
Keunggulan metode ini adalah tersedianya puluhan ribu data geologi dari berbagai belahan dunia.
Data tersebut kemudian dipadukan dengan simulasi iklim modern sehingga menghasilkan rekonstruksi suhu global masa lampau yang dinilai lebih akurat.
Selain itu, penelitian ini juga mengindikasikan bahwa sensitivitas iklim Bumi terhadap peningkatan karbon dioksida dalam jangka waktu geologis mungkin lebih rendah dibandingkan beberapa perkiraan sebelumnya.
Namun, para peneliti menegaskan temuan tersebut tidak mengubah proyeksi pemanasan global saat ini, karena kenaikan suhu modern berlangsung sangat cepat akibat emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia.
Profesor Benjamin Mills, penulis senior dari University of Leeds, mengatakan hasil penelitian ini justru menjadi peringatan baru.
Menurutnya, jika seluruh cadangan bahan bakar fosil di dunia dibakar, suhu Bumi berpotensi meningkat hingga sekitar 10 derajat Celsius.
"Temuan ini menunjukkan suhu Bumi selama ini dijaga dalam batas yang cukup ketat. Pemanasan global akibat aktivitas manusia hingga 10 derajat Celsius dapat membawa planet ini ke kondisi yang mungkin belum pernah dialami sebelumnya," kata Mills.
Dengan kata lain, apabila perkiraan suhu ekstrem masa purba selama ini terlalu tinggi, maka pemanasan akibat aktivitas manusia berpotensi melampaui batas alami yang pernah dialami Bumi sepanjang sejarahnya.
Mills mengingatkan bahwa iklim panas pada masa lampau tidak bisa dijadikan alasan untuk menganggap pemanasan global saat ini sebagai hal yang wajar.
Menurutnya, kondisi panas pada masa purba terbentuk secara sangat lambat selama jutaan tahun sehingga ekosistem memiliki waktu beradaptasi.
Sebaliknya, pemanasan global modern terjadi hanya dalam hitungan puluhan hingga ratusan tahun, sehingga banyak spesies dan ekosistem kesulitan menyesuaikan diri.
"Sistem pengatur iklim alami Bumi bekerja sangat lambat. Karena itu, manusia harus melakukan pengendalian iklimnya sendiri agar planet ini tetap berada dalam kondisi layak dihuni," ujarnya.
Para peneliti menilai hasil studi ini bukan sekadar memperbaiki pemahaman mengenai sejarah iklim Bumi.
Temuan tersebut juga membantu ilmuwan menentukan batas kemampuan ekosistem menghadapi suhu tinggi.
Jika ternyata rentang suhu aman Bumi selama ratusan juta tahun lebih sempit daripada yang diperkirakan, maka ancaman pemanasan global pada abad ini bisa jauh lebih serius.
Karena itu, menjaga hutan, mengurangi emisi karbon, dan membatasi penggunaan bahan bakar fosil dinilai menjadi langkah penting agar Bumi tidak memasuki kondisi iklim yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah planet ini. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Bumi Purba Suhu Bumi Krisis Iklim



























