Illustrasi - Lahan pertanian kekeringan akibat perubahan iklim (jurnas/Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Kehidupan di Bumi diperkirakan masih memiliki waktu yang sangat panjang sebelum benar-benar berakhir. Penelitian terbaru menunjukkan biosfer Bumi masih dapat mendukung kehidupan selama sekitar 1,8 miliar tahun ke depan, jauh lebih lama dibandingkan perkiraan sejumlah studi sebelumnya.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal JGR Atmospheres dan dipimpin oleh astrobiolog Jacob Haqq-Misra bersama peneliti Eric Wolf dari Blue Marble Space.
Dikutip dari Live Science, para peneliti menggunakan 29 model iklim untuk memproyeksikan bagaimana kondisi Bumi akan berubah seiring Matahari terus mengalami peningkatan kecerahan selama miliaran tahun ke depan.
Seiring bertambahnya usia, Matahari terus menghasilkan energi yang lebih besar. Saat ini, bintang pusat tata surya tersebut memancarkan sekitar sepertiga lebih banyak energi dibandingkan ketika tata surya terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu.
Dalam sekitar 5 miliar tahun mendatang, Matahari diperkirakan akan mencapai akhir siklus hidupnya. Namun jauh sebelum itu, peningkatan suhu Matahari diperkirakan akan mengubah kondisi Bumi secara drastis.
Selama puluhan tahun, para ilmuwan mencoba memperkirakan kapan perubahan tersebut akan membuat planet ini tidak lagi layak dihuni.
Penelitian pada 1982 memperkirakan biosfer fotosintesis Bumi hanya mampu bertahan sekitar 100 juta tahun lagi. Namun berbagai penelitian berikutnya terus memperpanjang estimasi tersebut.
Studi terbaru kini menyebut kehidupan tumbuhan kemungkinan masih dapat bertahan hingga 1,8 miliar tahun ke depan.
"Kami ingin menunjukkan bahwa kehidupan di Bumi, khususnya vegetasi kompleks, dapat bertahan jauh lebih lama dibandingkan yang diperkirakan penelitian sebelumnya," kata Jacob Haqq-Misra.
Mengapa kehidupan akhirnya akan berakhir? Seluruh ekosistem Bumi bergantung pada fotosintesis, yaitu proses ketika tumbuhan, alga, dan beberapa bakteri mengubah sinar Matahari, air, dan karbon dioksida (CO2) menjadi energi serta oksigen. Namun proses tersebut memiliki batas.
Ketika suhu Bumi semakin tinggi, mekanisme fotosintesis tidak lagi dapat bekerja secara optimal. Di sisi lain, kadar karbon dioksida di atmosfer juga akan terus menurun sehingga tumbuhan kehilangan salah satu bahan utama untuk bertahan hidup.
Jika tumbuhan tidak lagi mampu melakukan fotosintesis, rantai makanan akan runtuh dan kehidupan kompleks di Bumi pada akhirnya ikut menghilang.
Selain itu, sekitar 2 miliar tahun dari sekarang, Bumi diperkirakan mulai kehilangan lautan akibat penguapan ekstrem dan radiasi Matahari yang memecah molekul air sehingga air perlahan lepas ke luar angkasa.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya, studi terbaru memasukkan lebih banyak variabel ke dalam simulasi.
Para peneliti tidak hanya menghitung perubahan suhu dan kadar karbon dioksida, tetapi juga mempertimbangkan kemampuan berbagai jenis tumbuhan dalam bertahan hidup pada kondisi ekstrem.
Salah satunya adalah tanaman dengan mekanisme fotosintesis Crassulacean Acid Metabolism (CAM), seperti kaktus, sukulen, dan beberapa jenis anggrek.
Kelompok tanaman ini mampu bertahan dengan kadar karbon dioksida yang jauh lebih rendah dibandingkan tumbuhan biasa.
Penelitian juga memperhitungkan tumbuhan laut yang masih dapat memperoleh karbon dari sistem perairan, sehingga biosfer diperkirakan memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap perubahan lingkungan.
Peneliti ilmu keplanetan dari University of Chicago, Robert Graham, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menilai studi tersebut memberikan gambaran baru mengenai ketahanan biosfer Bumi.
Menurutnya, penggunaan model iklim tiga dimensi yang lebih kompleks menunjukkan bahwa kehidupan tumbuhan kemungkinan jauh lebih tangguh menghadapi perubahan lingkungan akibat peningkatan kecerahan Matahari dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Meski demikian, astrobiolog dari Birkbeck University of London, Andrew Rushby, mengingatkan bahwa hasil penelitian ini tetap merupakan estimasi jangka sangat panjang.
Ia mengatakan belum ada yang dapat memastikan bagaimana kehidupan akan berevolusi selama miliaran tahun mendatang. Bisa saja organisme fotosintesis mengembangkan mekanisme baru yang membuatnya mampu bertahan pada kondisi yang saat ini dianggap tidak memungkinkan.
Selain membantu memahami masa depan Bumi, penelitian ini juga memberikan petunjuk penting dalam pencarian kehidupan di planet lain.
Dengan mengetahui batas kemampuan biosfer bertahan terhadap perubahan suhu, cahaya Matahari, dan kadar karbon dioksida, ilmuwan dapat menyusun model yang lebih akurat untuk menilai apakah sebuah planet di luar Tata Surya memiliki peluang mendukung kehidupan.
Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa meski Matahari terus memanas, sistem Bumi memiliki ketahanan alami yang memungkinkan kehidupan bertahan jauh lebih lama daripada yang selama ini diperkirakan. (*)
Sumber: Live Science
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Cahaya Matahari Kehidupan di Bumi Akhir Kehidupan
























