Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) duduk di atas Pepadun sembari menginjak kepala kerbau dalam sebuah prosesi adat Lampung Pepadun (Foto: Kupas Lampung)
Jakarta, Jurnas.com - Pepadun merupakan kursi atau singgasana adat dalam tradisi masyarakat adat Lampung. Bagi masyarakat Lampung Pepadun, benda ini merupakan simbol kehormatan, legitimasi kepemimpinan, sekaligus penanda status sosial tertinggi dalam struktur adat.
Pepadun kembali menjadi perhatian publik ketika Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) baru-baru ini duduk di atas kursi kebesaran tersebut sembari menginjak kepala kerbau dalam sebuah prosesi adat Lampung dan menerima gelar Baginda Pemuka Bangsa saat safari politik ke Lampung.
Momen itu bukan hanya seremoni simbolis, tetapi juga mengandung beragam makna, termasuk makna penghormatan yang sangat tinggi dalam tradisi masyarakat Lampung.
Lantas, apa sebenarnya Pepadun? Bagaimana sejarahnya? Apa makna simbolik di balik duduknya Jokowi di atas kursi Pepadun sambil menginjak kepala kerbau dalam prosesi adat Lampung Pepadun itu? Berikut adalah ulasannya yang dihimpun dari berbagai sumber.
Pepadun adalah singgasana atau bangku adat yang digunakan dalam prosesi pemberian gelar kehormatan di lingkungan masyarakat adat Lampung Pepadun.
Secara harfiah, istilah "Pepadun" merujuk pada kursi kayu khusus yang menjadi simbol kedudukan sosial seseorang dalam struktur adat.
Keberadaan singgasana inilah yang kemudian melahirkan nama kelompok masyarakat adat Lampung Pepadun, salah satu dari dua kelompok besar masyarakat adat Lampung selain Saibatin.
Masyarakat Pepadun umumnya mendiami wilayah pedalaman atau dataran tinggi Lampung, seperti Abung, Way Kanan, dan Pubian.
Pepadun memiliki peran sentral dalam upacara adat Cakak Pepadun, yakni prosesi kenaikan status sosial dan pemberian gelar adat kepada seseorang.
Dalam tradisi ini, seseorang yang akan memperoleh gelar adat, seperti Suttan, Raja, Pangeran, atau Dalom, harus menjalani serangkaian ritual adat yang dipimpin oleh Penyimbang atau pemimpin adat tertinggi.
Prosesi pemberian gelar atau Juluk Adok dilakukan dengan mendudukkan calon penerima gelar di atas Pepadun sebagai simbol sahnya kedudukan adat yang diterima.
Karena itu, Pepadun bukan hanya benda fisik, tetapi juga simbol legitimasi sosial dalam masyarakat adat Lampung.
Salah satu keunikan masyarakat Lampung Pepadun adalah sistem sosialnya yang relatif lebih terbuka dibandingkan masyarakat adat Saibatin.
Jika dalam masyarakat Saibatin status kebangsawanan lebih banyak diwariskan berdasarkan garis keturunan, masyarakat Pepadun memungkinkan seseorang memperoleh kedudukan sosial melalui pelaksanaan upacara Cakak Pepadun.
Untuk mengikuti prosesi tersebut, seseorang harus memenuhi berbagai persyaratan adat, termasuk membayar sejumlah uang adat yang dikenal sebagai Dau serta menyembelih sejumlah kerbau sebagai bagian dari ritual.
Tradisi ini mencerminkan nilai tanggung jawab sosial, gotong royong, dan penghormatan terhadap adat yang telah diwariskan turun-temurun.
Apa makna simbolik di balik duduknya Jokowi di atas kursi Pepadun sambil menginjak kepala kerbau dalam prosesi adat Lampung Pepadun itu?
Mengenai makna simboliknya, jika dibaca melalui perspektif semiotika Roland Barthes, simbol tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tanda, melainkan juga sebagai medium yang dapat melahirkan beragam makna.
Roland Barthes, seorang filsuf dan ahli semiotika asal Prancis, menjelaskan bahwa sebuah simbol bekerja di antaranya dalam tiga tingkatan makna, yaitu denotasi atau makna apa adanya secara kasat mata, konotasi atau makna di balik yang terlihat secara kasat mata, dan mitos atau makna yang dipahami atau ingin dipahami oleh kalangan masyarakat.
Barthes kemudian mengembangkan lebih lanjut tingkatan-tingkatan makna tersebut dengan memperkenalkan konsep mitos dan ideologi. Mitos dipandang sebagai suatu bentuk komunikasi, teknik untuk memaknai sesuatu, sekaligus medium untuk menyampaikan pesan (Barthes, 1991; Piliang, 2004; Wicaksana, 2024).
Melalui pendekatan tersebut, sebuah simbol tidak hanya menyampaikan apa yang terlihat, tetapi juga nilai, keyakinan, hingga pesan ideologi yang dipahami atau ingin dipahami oleh masyarakat.
Diketahui belakangan, proses pemberian gelar adat kepada Jokowi di Lampung menuai sorotan dan melahirkan pemaknaan yang beragam.
Pemaknaan yang bergama dimaksud di anataranya ialah ketika seorang tokoh nasional seperti Joko Widodo didudukkan di atas Pepadun, hal itu menunjukkan bentuk penghormatan adat yang sangat tinggi dari masyarakat Lampung.
Dalam perspektif adat, tindakan tersebut bukan sekadar seremoni penyambutan, melainkan simbol penerimaan, penghargaan, dan pengakuan atas kedudukan seseorang.
Di sisi lain, proses pemberian adat itu juga dapat menunjukkan bahwa Jokowi dapat dikategorikan sebagai sosok yang masih "nafsu kuasa", menerima gelar "kekuasaan" atau legitimasi sosial.
Khusus terkait makna simbolik di balik proses menginjak kepala kerbau, itu juga dapat dimaknai sebagai pesan politik yang cukup keras bagi "lawan politiknya" yang belakangan ini dikaitkan dengan PDIP.
Lebih jauh, momen tersebut juga menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya Lampung kepada masyarakat luas sekaligus menegaskan bahwa tradisi adat masih hidup dan dijaga di tengah modernisasi. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Status Sosil Cakak Pepadun Adat Lampung Joko Widodo




















