Jum'at, 26/06/2026 23:08 WIB

Hari Raya Kuningan 27 Juni 2026, Ini Sejarah hingga Maknanya





Tepat pada hari ini, Sabtu, 27 Juni 2026, atmosfer sakral kembali menyelimuti Pulau Dewata seiring dengan datangnya Hari Raya Kuningan.

Pelaksanaan upacara Hari Raya Kuningan di Bali (Foto: Pariwisata Badung)

Jakarta, Jurnas.com - Tepat pada hari ini, Sabtu, 27 Juni 2026, atmosfer sakral kembali menyelimuti Pulau Dewata seiring dengan datangnya Hari Raya Kuningan.

Perayaan yang jatuh pada Sabtu Kliwon Wuku Kuningan ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari Hari Raya Galungan yang telah dilaksanakan sepuluh hari sebelumnya.

Dihimpun dari berbagai sumber, momentum suci ini dirayakan oleh umat Hindu sebagai puncak kemenangan spiritual sekaligus waktu untuk memohon kerahayuan bagi alam semesta.

Merunut catatan sejarah yang termuat dalam Lontar Purana Bali Dwipa, perayaan ini pertama kali digelar pada tahun Saka 804 atau sekitar tahun 882 Masehi.

Akar sejarahnya berkaitan erat dengan mitologi pertempuran besar antara Dewa Indra melawan Raja Mayadenawa yang angkara murka karena melarang rakyat menyembah Tuhan.

Kemenangan Dewa Indra dalam menumpas kejahatan tersebut menjadi tonggak lahirnya Hari Raya Galungan sebagai simbol kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan).

Sepuluh hari setelah kemenangan besar itu, umat kemudian menggelar Hari Raya Kuningan sebagai bentuk resepsi syukuran sekaligus momen pelepasan para leluhur kembali ke kahyangan.

Secara filosofis, kata Kuningan sendiri mengandung makna mendalam yang berasal dari kata uning, yang berarti tahu, ingat, atau mawas diri.

Melalui pemaknaan ini, manusia diingatkan untuk selalu melakukan introspeksi diri, mengendalikan indra, dan meningkatkan kualitas spiritual agar selalu berjalan di atas kelurusan hati.

Selain itu, warna kuning yang mendominasi perayaan ini identik dengan warna emas, yang dalam tradisi Hindu disimbolkan sebagai lambang kemakmuran, kelimpahan anugerah, dan kebijaksanaan hidup yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi Wasa.

Ada karakteristik unik yang membedakan prosesi Kuningan dengan perayaan keagamaan lainnya di Bali, salah satunya adalah batasan waktu pelaksanaan ibadah.

Berdasarkan tradisi, seluruh rangkaian persembahyangan harus sudah diselesaikan sebelum matahari mencapai ubun-ubun atau sebelum pukul 12.00 siang.

Umat Hindu meyakini bahwa pada paruh awal hari tersebut, para Dewa dan leluhur turun ke bumi untuk memberikan berkah dan puncaknya terjadi pada pagi hari, sehingga setelah tengah hari energi alam semesta akan berganti dan para leluhur dipercaya telah kembali ke alam niskala atau spiritual.

Keunikan lain dari Hari Raya Kuningan juga terlihat jelas pada sarana upakara yang disiapkan oleh masyarakat.

Berbeda dengan Galungan, sajian utama pada hari ini wajib menggunakan nasi kuning yang ditempatkan dalam wadah khusus bernama selanggi sebagai simbol rasa syukur atas berkah pangan.

Rumah-rumah warga juga dihiasi oleh anyaman janur khusus seperti tamiang yang berbentuk bulat menyerupai perisai sebagai lambang perlindungan diri dari marabahaya, endongan yang berbentuk seperti kantong perbekalan sebagai simbol kesiapan ilmu pengetahuan, serta ter yang berbentuk panah sebagai lambang ketajaman pikiran dalam membedakan hal baik dan buruk.

Melalui perpaduan sejarah, tradisi, dan simbolisme tersebut, Hari Raya Kuningan menjadi pengingat abadi bagi manusia untuk terus menjaga keselarasan hubungan dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.

KEYWORD :

Pulau Dewata Hari Raya Kuningan 27 Juni Provinsi Bali




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :