Ilustrasi - Hari Hutan Hujan Sedunia (Foto: Amazon Aid)
Jakarta, Jurnas.com - Di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap krisis iklim dan gelombang panas yang melanda berbagai belahan dunia, masyarakat internasional bersiap memperingati Hari Hutan Hujan Sedunia (World Rainforest Day) yang jatuh pada Senin, 22 Juni 2026.
Momentum tahunan ini kembali menjadi alarm penting bagi masyarakat global, khususnya Indonesia, untuk memperkuat komitmen dalam melindungi ekosistem yang menjadi benteng pertahanan utama bumi dari pemanasan global.
Dihimpun dari berbagai sumber, Hari Hutan Hujan Sedunia pertama kali diinisiasi oleh organisasi non-profit Rainforest Partnership pada tahun 2017.
Tujuan utama dari gerakan global ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia mengenai peran krusial hutan hujan bagi kelangsungan hidup manusia, sekaligus menggerakkan aksi nyata demi menghentikan laju deforestasi yang kian mengancam.
Hutan hujan tropis merupakan salah satu ekosistem paling vital di planet bumi. Meskipun hanya mencakup sekitar 6% dari total permukaan bumi, hutan hujan menjadi rumah bagi lebih dari separuh spesies tumbuhan dan hewan di dunia.
Lebih dari itu, hutan hujan berfungsi sebagai paru-paru dunia yang menyerap miliaran ton karbon dioksida setiap tahunnya serta memproduksi oksigen yang dihirup oleh makhluk hidup.
Selain menjadi benteng iklim, hutan hujan juga memegang peranan penting dalam dunia medis global. Berbagai literatur ilmiah mencatat bahwa sekitar 25% dari obat-obatan moderen yang ada saat ini menggunakan bahan aktif yang berasal dari tanaman hutan hujan.
Sayangnya, baru kurang dari 5% tanaman hutan hujan yang telah diteliti secara mendalam untuk potensi medisnya, yang berarti masih banyak rahasia penyembuhan alam yang terancam hilang jika deforestasi terus berlanjut.
Bagi Indonesia, peringatan Hari Hutan Hujan Sedunia tahun 2026 ini membawa urgensi yang sangat nyata.
Sebagai salah satu negara dengan hamparan hutan hujan tropis terbesar di dunia, bersama dengan Brasil dan Republik Demokratik Kongo, Indonesia memiliki tanggung jawab besar sekaligus risiko yang tinggi.
Berdasarkan laporan analisis cuaca terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pertengahan Juni 2026, sebagian besar wilayah Indonesia saat ini sedang mulai memasuki perluasan musim kemarau. Dalam kondisi kering seperti ini, keberadaan hutan hujan yang sehat menjadi sangat krusial.
Hutan hujan berfungsi sebagai spons raksasa alami yang menyimpan cadangan air tanah dalam jumlah masif, sehingga mampu mencegah kekeringan meteorologis ekstrem di wilayah sekitarnya dan menjaga stabilitas pasokan air bagi sektor pertanian serta konsumsi warga.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Hari Hutan Hujan Sedunia World Rainforest Day 22 Juni Peringatan Dunia





















