Minggu, 03/05/2026 12:33 WIB

Sebelum Meletus, Gunung Ini Beri Sinyal Panas, Pola Peringatan Baru





Studi terbaru mengungkap adanya peningkatan suhu yang terdeteksi sekitar satu bulan sebelum erupsi, membuka peluang baru dalam sistem peringatan dini bencana

Gunung meletus, Letusan Mauna Loa pada 2022 ternyata sudah memberi tanda awal jauh sebelum lava muncul ke permukaan (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Letusan Mauna Loa pada 2022 ternyata sudah memberi tanda awal jauh sebelum lava muncul ke permukaan. Studi terbaru mengungkap adanya peningkatan suhu yang terdeteksi sekitar satu bulan sebelum erupsi, membuka peluang baru dalam sistem peringatan dini bencana gunung api.

Penelitian ini dipimpin oleh Ian T.W. Flynn dari University of Pittsburgh. Ia memanfaatkan citra satelit untuk melacak pergerakan lava selama erupsi yang terjadi di Pulau Hawaii.

Dikutip dari Earth, saat erupsi berlangsung, aliran lava bergerak menuju Daniel K. Inouye Highway. Flynn mencatat bahwa aliran tersebut menempuh sekitar 80 persen dari jalur sejauh 11 mil hanya dalam 48 jam pertama sebelum akhirnya melambat karena pasokan magma berkurang.

Menurutnya, kecepatan awal ini sangat krusial dalam mitigasi bencana. Pergerakan cepat lava dapat mendorong otoritas untuk segera menutup jalan, mengalihkan lalu lintas, atau meningkatkan kewaspadaan di wilayah sekitar.

Namun temuan paling penting justru muncul sebelum letusan terjadi. Data panas menunjukkan adanya kenaikan suhu kecil di area puncak gunung pada 22 Oktober 2022, jauh sebelum erupsi dimulai.

Flynn menjelaskan bahwa sinyal ini berhasil dipisahkan dari gangguan lain seperti awan atau panas alami permukaan menggunakan teknologi pembelajaran mesin. Pada saat yang sama, aktivitas gempa juga meningkat, menandakan pergerakan magma ke dalam sistem gunung.

“Satu titik panas saja tidak bisa memastikan akan terjadi letusan, tetapi ini menjadi alasan kuat untuk meningkatkan kewaspadaan ketika sinyal lain ikut muncul,” jelas Flynn.

Ia juga menekankan bahwa setiap gunung memiliki karakter berbeda. “Setiap gunung berapi memiliki kepribadiannya sendiri,” ujarnya, sehingga pola peringatan tidak bisa disamaratakan antar gunung.

Setelah erupsi berakhir, analisis lanjutan menunjukkan dampak fisik yang signifikan. Aliran lava menutupi area sekitar 13,8 mil persegi dengan ketebalan maksimum mencapai lebih dari 66 kaki dan volume total sekitar 0,031 mil kubik.

Ketebalan lava ini berpengaruh besar terhadap proses pendinginan dan tingkat bahaya. Lava yang lebih tebal menyimpan panas lebih lama, menghambat akses, dan membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar aman.

Flynn mengingatkan bahwa bahaya tidak langsung hilang setelah lava berhenti mengalir. “Jika masih panas, maka masih berbahaya,” tegasnya, karena panas sisa dapat memicu gas beracun dan membahayakan peneliti di lapangan.

Studi ini juga menunjukkan pentingnya peran satelit dalam pemantauan bencana. Data dari satelit pemerintah dan komersial memungkinkan ilmuwan memantau perubahan secara real-time, termasuk kecepatan aliran lava dan penyebarannya.

Laporan dari U.S. Geological Survey menyebutkan bahwa lava sempat mendekati jalan raya hingga jarak sekitar 1,7 mil. Meski tidak sampai merusak infrastruktur utama, jarak tersebut menunjukkan potensi ancaman yang nyata.

Ke depan, para ilmuwan berharap sistem prediksi erupsi dapat ditingkatkan dengan menggabungkan berbagai data, mulai dari suhu, pergerakan tanah, gas, hingga aktivitas gempa. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan peringatan lebih dini dan akurat.

Meski demikian, Flynn menegaskan bahwa setiap gunung tetap membutuhkan data lokal jangka panjang sebelum pola peringatannya bisa dipercaya sepenuhnya. Temuan ini penting, tetapi tidak bisa langsung digeneralisasi ke semua gunung di dunia.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Volcanology and Geothermal Research ini menegaskan bahwa kombinasi sinyal panas awal, pergerakan lava cepat, dan pendinginan panjang dapat menjadi dasar sistem peringatan baru yang lebih efektif.

Dengan pemahaman ini, ilmuwan kini memiliki “cerita peringatan” yang lebih jelas untuk memantau gunung berapi lebih awal, mengambil keputusan lebih cepat, dan melindungi masyarakat dari ancaman yang sulit diprediksi. (*)

KEYWORD :

Gunung Meletus Peringatan Dini Gunung Erupsi Sinyal Panas




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :