Selasa, 31/03/2026 13:53 WIB

Apa Jadinya Bumi Jika Matahari Tiba-Tiba Menghilang? Ini Skenario Ngerinya





Bayangkan jika Matahari, sumber utama cahaya dan panas bagi Bumi, tiba-tiba lenyap. Apa yang akan terjadi pada planet kita dan seluruh kehidupan di dalamnya?

Seorang ibu dan bayinya menikmati matahari terbenam di pantai Calais, Prancis (Foto: Reuters)

Jakarta, Jurnas.com - Bayangkan jika Matahari yang menjadi sumber utama cahaya dan panas bagi Bumi tiba-tiba lenyap. Apa yang akan terjadi pada planet kita dan seluruh kehidupan di dalamnya?

Para ilmuwan menyebut, dampaknya akan sangat cepat, ekstrem, dan nyaris mustahil untuk diatasi.

Dilansir dari Live Science, meski Matahari menghilang seketika, manusia di Bumi tidak akan langsung menyadarinya. Cahaya Matahari membutuhkan waktu sekitar 8 menit 20 detik untuk mencapai Bumi.

Selama waktu itu, semuanya akan tampak normal. Namun setelah “salam perpisahan” terakhir dari cahaya Matahari, kegelapan total akan terjadi.

Dampaknya, Bumi mendadak gelap dan kacau. Tanpa cahaya Matahari, Bumi akan langsung mengalami pemadaman besar. Siang dan malam tidak lagi bisa dibedakan.

Bulan akan menghilang dari pandangan karena hanya memantulkan cahaya Matahari. Yang tersisa hanyalah cahaya redup dari bintang-bintang jauh.

Lebih dari itu, tanpa gravitasi Matahari, Bumi dan planet lain tidak lagi terikat orbit. Mereka akan meluncur bebas ke luar angkasa mengikuti arah geraknya saat ini.

Kehidupan di Bumi sangat bergantung pada proses Fotosintesis, yang membutuhkan cahaya Matahari. “Ini akan menjadi bom waktu bagi kelangsungan hidup hampir semua makhluk hidup di Bumi,” kata Timothy Cronin.

Tanpa fotosintesis, tanaman akan mati. Tanaman yang tidak mendapat cahaya buatan mungkin hanya bertahan beberapa minggu atau bulan sebelum akhirnya punah.

Karena tanaman adalah dasar rantai makanan, sebagian besar kehidupan di permukaan Bumi, termasuk manusia, akan ikut terdampak.

Dampak lainnya, suhu Bumi turun drastis. Tak butuh waktu lama bagi Bumi untuk berubah menjadi planet es.

Menurut Michael Summers, suhu Bumi akan turun sekitar 20 derajat Celsius setiap 24 jam pada awalnya.

Dalam 2–3 hari, hampir seluruh permukaan Bumi akan berada di bawah titik beku.

Kolam kecil akan membeku dalam hitungan hari, danau dalam beberapa minggu atau bulan. Lautan mungkin tetap cair selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, terutama di bagian terdalam yang dipanaskan oleh aktivitas vulkanik.

Namun pada akhirnya, Bumi akan menjadi dunia yang sangat dingin, mendekati kondisi planet seperti Pluto, dengan suhu sekitar minus 240 derajat Celsius atau lebih rendah.

Dampak lainnya ialah peradaban bisa runtuh. Dalam kondisi ekstrem ini, hampir seluruh kehidupan akan punah.

Ada kemungkinan manusia bertahan di bawah tanah, memanfaatkan energi panas bumi atau nuklir, serta menanam makanan dengan cahaya buatan. Namun, para ilmuwan menilai ini tetap akan menjadi peristiwa kepunahan besar.

Lantas, siapa yang bisa bertahan? Meski sebagian besar kehidupan akan musnah, beberapa organisme ekstrem mungkin tetap bertahan. Salah satunya adalah tardigrade, makhluk mikroskopis yang dikenal sangat tahan terhadap kondisi ekstrem.

Selain itu, bakteri yang hidup di sekitar ventilasi hidrotermal di dasar laut juga berpotensi bertahan. Mereka tidak bergantung pada fotosintesis, melainkan menggunakan proses kimia (kemosintesis) untuk bertahan hidup.

Apakah peristiwa Matahari menghilang akan terjadi? Kabar baiknya, skenario ini hampir mustahil terjadi secara tiba-tiba.

Namun, Matahari memang tidak abadi. Sekitar 5 miliar tahun lagi, Matahari akan kehabisan bahan bakar dan berubah menjadi bintang raksasa merah yang bisa menelan planet-planet terdekat, termasuk kemungkinan Bumi.

Bahkan sebelum itu, peningkatan panas Matahari diperkirakan akan menguapkan seluruh lautan di Bumi dalam waktu sekitar 1 miliar tahun.

Meski terdengar seperti fiksi ilmiah, skenario ini membantu ilmuwan memahami peran krusial Matahari dalam menjaga kehidupan.

Dengan mempelajari bagaimana bintang berubah dari waktu ke waktu, ilmuwan dapat memahami lebih dalam tentang alam semesta, dan posisi rapuh Bumi di dalamnya. (*)

KEYWORD :

Cahaya Matahari Kehidupan di Bumi Matahari Menghilang Kerusakan di Bumi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :