Ilustrasi - ibu Imam Bukhari yang sedang berdoa untuk kesembuhan penyakitnya (Foto: AI)
Jakarta, Jurnas.com - Bulan Syawal menyimpan sejarah peradaban ilmu, bulan ini merupakan saksi lahirnya seorang anak yatim yang kelak mengubah wajah literatur hadis dunia.
Bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah bin al-Ja’fii al-Bukhari, ulama besar ini lahir pada Jumat malam, 13 Syawwal tahun 194 H di Bukhara, Uzbeskistan, Asia Tengah.
Kisah hidup Bukhari dimulai dengan sebuah ujian fisik yang berat. Tak lama setelah kelahirannya, ia kehilangan penglihatan.
Di tengah kedukaan karena sang ayah seorang ulama hadis bernama Ismail telah wafat, sang ibu harus berjuang membesarkan Bukhari dalam kegelapan indra penglihat.
Sejarah mencatat kekuatan doa sang ibu menjadi titik balik. Konon, setelah sekian lama bersujud dan memohon, sang ibu bermimpi didatangi Nabi Ibrahim AS yang mengabarkan bahwa penglihatan anaknya telah dipulihkan oleh Allah.
Pagi harinya, Bukhari kecil terbangun dengan mata yang mampu melihat kembali.
Sejak usia sepuluh tahun, Bukhari menunjukkan anomali kecerdasan. Di saat anak-anak seusianya bermain, ia telah menghabiskan waktu di halakah ilmu.
Ketajamannya teruji saat ia berani mengoreksi gurunya, Al-Dakhili, mengenai urusan sanad (rantai perawi) sebuah hadis.
Meski sempat diragukan karena usianya yang masih belia, kebenaran argumen Bukhari akhirnya diakui oleh sang guru setelah memeriksa kembali catatannya.
Pada usia 16 tahun, pengembaraannya dimulai. Setelah menunaikan ibadah haji bersama ibu dan kakaknya, Bukhari memutuskan untuk tetap tinggal di Makkah dan Madinah.
Inilah awal dari pengembaraan panjang selama belasan tahun yang membawanya melintasi ribuan kilometer menuju Baghdad, Mesir, Syam, hingga Neisabur.
Meskipun berasal dari keluarga yang berkecukupan secara warisan, Bukhari dikenal hidup sangat zuhud. Sebagian besar hartanya habis digunakan untuk membiayai perjalanan mencari hadis dan menyantuni murid-muridnya.
Seringkali ia hanya makan beberapa butir kurma atau sayuran kering dalam sehari demi menjaga kelangsungan risetnya.
Kehidupannya tidak selalu mulus. Di masa tuanya, ia sempat mengalami fitnah dan pengasingan akibat dinamika politik dan perbedaan pandangan di wilayahnya.
Namun, keteguhan prinsipnya tidak goyah. Ia pernah berkata bahwa ia tidak akan pernah menggunakan ilmu agama untuk mencari muka di hadapan penguasa.
Setelah menyusun ribuan hadis dengan standar kesahihan yang sangat ketat, ia wafat di malam Idul Fitri (1 Syawal 256 H) dalam usia 62 tahun di Khartank, sebuah desa kecil di dekat Samarkand.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Sejarah Islam Imam Bukhari Ulama Hadist Bulan Syawal


























