Secangkir Kopi (Foto: Pexels/Rodolfo QuirĂ³s)
Jakarta, Jurnas.com - Kabar baik bagi pecinta kopi. Sebuah studi besar menemukan bahwa kebiasaan minum kopi setiap hari ternyata hampir tidak memiliki hubungan signifikan dengan kualitas tidur maupun rasa kantuk di siang hari, khususnya pada orang dewasa paruh baya.
Temuan ini sekaligus menantang anggapan lama bahwa kafein selalu berdampak buruk terhadap tidur. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi kopi secara rutin mungkin tidak menimbulkan efek jangka panjang sebesar yang selama ini dikhawatirkan.
Penelitian ini dilakukan di Swedia dengan melibatkan populasi besar yang melaporkan kebiasaan minum kopi harian mereka, lengkap dengan data rinci tentang kualitas tidur dan tingkat kewaspadaan di siang hari.
Simon Söderholm dari Linköping University menganalisis dampak konsumsi kopi jangka panjang dan menemukan bahwa pengaruhnya terhadap pola tidur maupun kondisi tubuh di siang hari sangat kecil.
Bahkan pada peserta yang minum kopi beberapa kali sehari, pola tidur dan tingkat kantuk mereka cenderung tetap stabil.
Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan minum kopi mungkin hanya memiliki dampak terbatas dalam jangka panjang, meskipun tetap dipengaruhi oleh faktor lain seperti genetika dan gaya hidup.
Untuk memastikan keakuratan data, peneliti tidak hanya mengandalkan kuesioner. Mereka juga menganalisis penanda genetik yang berkaitan dengan konsumsi kafein.
Hasilnya, ditemukan 66 variasi genetik (SNP) yang terkait dengan kebiasaan minum kopi, beberapa di antaranya berada dekat gen yang memang diketahui berhubungan dengan kafein.
Hal ini memperkuat bahwa data yang digunakan bukan sekadar laporan subjektif, sehingga hasil penelitian menjadi lebih meyakinkan.
Menariknya, peneliti juga menemukan kelompok gen pada kromosom 22 yang mengindikasikan masih ada mekanisme biologis lain terkait kopi yang belum sepenuhnya dipahami.
Bagaimana dampak minum kopi bagi kualitas tidur? Secara umum, skor kualitas tidur dan tingkat kantuk siang hari dalam penelitian ini tergolong baik.
Hanya sekitar 16 persen peserta yang menunjukkan tanda kantuk berlebih berdasarkan skala standar Epworth Sleepiness Scale. Bahkan ketika ditemukan hubungan secara statistik, perubahan yang terjadi sangat kecil—sering kali hanya selisih beberapa persen saja.
Perbedaan antara signifikansi statistik dan dampak nyata inilah yang menjadi poin penting dalam studi ini.
Beberapa temuan justru berlawanan dengan anggapan umum. Peserta yang lebih sering minum kopi sedikit lebih mungkin melaporkan kualitas tidur yang lebih baik.
Konsumsi tinggi dikaitkan dengan kualitas tidur yang sedikit lebih baik, lebih sedikit kesulitan untuk tertidur, dan lebih jarang terbangun terlalu pagi—meski perbedaannya sangat tipis.
Namun, ada satu catatan: peminum kopi lebih sering melaporkan kebiasaan mendengkur dibandingkan yang tidak minum kopi. Meski demikian, seluruh perbedaan ini terlalu kecil untuk menyimpulkan bahwa kopi benar-benar meningkatkan kualitas tidur.
Kafein bekerja dengan cara menghambat reseptor adenosin di otak, yang berperan dalam mengatur rasa kantuk.
Namun, pada konsumsi jangka panjang, tubuh diduga dapat beradaptasi terhadap efek ini. Adaptasi tersebut bisa mengurangi efek stimulan kafein sekaligus meminimalkan gangguan tidur di malam hari.
Fenomena ini juga didukung oleh berbagai penelitian sebelumnya pada manusia dan hewan.
Meski kebiasaan jangka panjang terlihat aman, waktu minum kopi tetap menjadi faktor krusial. Dalam uji terkontrol, konsumsi 400 miligram kafein bahkan enam jam sebelum tidur terbukti masih dapat mengganggu kualitas tidur.
Artinya, meskipun tubuh bisa beradaptasi, minum kopi terlalu dekat dengan waktu tidur tetap berisiko.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa faktor lain seperti indeks massa tubuh (BMI), stres, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, hingga penggunaan obat tidur memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kualitas tidur dibandingkan kopi.
Variasi faktor ini menjelaskan mengapa tidak ada satu aturan yang berlaku untuk semua orang terkait konsumsi kopi.
Meski demikian, peneliti mengakui adanya keterbatasan, seperti tidak adanya data rinci tentang ukuran cangkir, jenis kopi, kadar kafein, atau waktu konsumsi.
Selain itu, studi ini bersifat potong lintang (cross-sectional), sehingga hanya menunjukkan hubungan, bukan sebab-akibat.
Studi ini memberikan perspektif baru bahwa kopi tidak selalu menjadi “musuh” utama bagi kualitas tidur, terutama bagi mereka yang sudah terbiasa mengonsumsinya.
Namun, bukan berarti bebas tanpa batas. Bagi yang mengalami gangguan tidur, tetap disarankan untuk memperhatikan jumlah dan waktu konsumsi kopi, serta faktor lain seperti stres dan pola hidup. (*)
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal PLOS ONE. Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Dampak Minum Kopi Manfaat Kopi Kualitas Tidur

























