Ilustrasi perang (Foto: Reuters)
Jakarta, Jurnas.com - Konflik yang melibatkan Iran berpotensi memicu krisis pangan global dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Analisis terbaru dari World Food Programme (WFP) menyebutkan, jumlah orang yang mengalami kelaparan akut bisa melonjak drastis dalam waktu singkat.
Jika konflik berlanjut hingga pertengahan tahun dan harga minyak bertahan di atas 100 dolar per barel, jumlah penduduk dunia yang mengalami kerawanan pangan diperkirakan mencapai 363 juta orang. Angka ini meningkat sekitar 45 juta dari kondisi saat ini yang berada di kisaran 318 juta orang.
Lonjakan tersebut berpotensi melampaui rekor sebelumnya yang terjadi saat Perang Ukraina 2022, ketika krisis pangan global mencapai 349 juta orang. Dengan kata lain, dunia kini berada di ambang krisis pangan terbesar dalam sejarah modern.
Menurut Wakil Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau, konflik ini tidak hanya berdampak lokal, tetapi dapat mengirim gelombang kejut ke seluruh dunia. Ia memperingatkan bahwa keluarga yang sudah kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari akan menjadi kelompok yang paling terdampak.
Dampak tersebut diperparah oleh terganggunya jalur perdagangan vital di Selat Hormuz, yang sejak awal Maret mengalami hambatan serius. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak, gas alam cair, dan pupuk yang sangat penting bagi sistem pangan global.
Gangguan pada pasokan energi memicu kenaikan harga yang kemudian merambat ke biaya produksi dan distribusi pangan. Negara-negara yang bergantung pada impor energi dan bahan pangan menjadi paling rentan terhadap tekanan ini.
Selain energi, distribusi pupuk global juga ikut terganggu, yang memperburuk situasi di sektor pertanian. Sekitar seperempat pasokan pupuk dunia melewati Selat Hormuz, sehingga gangguan di kawasan ini langsung berdampak pada produksi pangan.
Kondisi ini menjadi semakin krusial karena terjadi menjelang musim tanam di sejumlah wilayah, terutama di kawasan Sub-Sahara Afrika. Keterlambatan atau kelangkaan pupuk dapat menurunkan hasil panen secara signifikan dalam beberapa bulan ke depan.
Analisis WFP menunjukkan bahwa Asia menjadi kawasan dengan peningkatan kerawanan pangan terbesar, dengan tambahan sekitar 9,1 juta orang terdampak. Sementara itu, wilayah Afrika timur dan selatan diperkirakan menghadapi lonjakan hingga 17,7 juta orang dalam kondisi serupa.
Di kawasan lain, dampak juga terasa di Amerika Latin dan Karibia, Timur Tengah dan Afrika Utara, serta Afrika tengah. Secara keseluruhan, tambahan 45 juta orang diperkirakan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasar konsumsi harian sekitar 2.100 kalori.
Metodologi yang digunakan WFP menggabungkan data ketergantungan negara terhadap impor pangan dan energi dengan simulasi kenaikan harga global. Hasilnya menunjukkan bahwa lonjakan harga energi memiliki efek berantai yang langsung memengaruhi akses masyarakat terhadap makanan.
Jika tidak direspons dengan bantuan kemanusiaan yang memadai, krisis ini berpotensi berubah menjadi bencana global. WFP menegaskan bahwa tanpa intervensi cepat, jutaan orang yang sudah berada di ambang kelaparan bisa terdorong ke kondisi yang lebih parah.
Dengan demikian, konflik di Iran tidak hanya menjadi isu geopolitik, tetapi juga ancaman serius bagi ketahanan pangan dunia. Dampaknya yang meluas menegaskan bahwa stabilitas global kini semakin bergantung pada keterkaitan antara energi, logistik, dan sistem pangan. (*)
Sumber: Live Science
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Perang Iran Ancaman Kelaparan Kekurangan Pangan
























