Senin, 16/02/2026 19:59 WIB

Apa yang Terjadi Saat Gerhana Matahari Cincin 17 Februari?





Gerhana matahari cincin atau ring of fire pada 17 Februari akan perlihatkan Bulan menutupi hampir seluruh piringan Matahari, menyisakan lingkaran cahaya tipis

Ilustrasi gerhana matahari cincin (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Gerhana matahari cincin atau ring of fire pada 17 Februari akan memperlihatkan Bulan menutupi hampir seluruh piringan Matahari, menyisakan lingkaran cahaya tipis menyerupai cincin api. Fenomena astronomi langka ini hanya dapat disaksikan secara penuh dari Antartika, terutama oleh kru stasiun riset terpencil seperti Concordia Station.

Karena jalur annularitas melintasi bagian interior Antartika, hanya sedikit manusia yang berpeluang melihatnya secara langsung. Waktu pasti tiap fase bergantung pada lokasi pengamatan, namun secara global gerhana dimulai pada pukul 4:56 pagi EST (09.56 GMT).

Bagaimana proses gerhana matahari cincin terbentuk? Pada momen yang disebut “kontak pertama”, Bulan mulai “menggigit” sisi kiri Matahari dan perlahan bergerak dari kiri ke kanan. Seiring waktu, piringan Matahari akan berubah menjadi sabit bercahaya yang semakin menipis mendekati fase puncak.

Di langit Antartika yang beku, sabit Matahari akan tampak menggantung rendah di cakrawala barat daya. Cahaya yang biasanya menyilaukan perlahan meredup, menciptakan suasana dramatis di atas hamparan es.

Fase paling dinantikan, yakni annularitas, dimulai sekitar pukul 6:42 pagi EST (11.42 GMT). Pada tahap ini, siluet Bulan sepenuhnya berada di dalam piringan Matahari, menandai apa yang disebut sebagai “kontak kedua”.

Di Concordia Station, fase ini berlangsung sedikit lebih dari dua menit. Hampir seluruh permukaan Matahari tertutup, menyisakan tepian luar bercahaya keemasan yang membentuk lingkaran api di langit yang tampak lebih gelap dari biasanya.

Puncak gerhana terjadi pada pukul 6:47 pagi EST (11.47 GMT), ketika Bulan berada tepat di pusat piringan Matahari dari sudut pandang pengamat di Antartika. Pada momen ini, cincin api tampak paling simetris dan intens sebelum perlahan mulai terurai.

Fenomena ini terjadi karena posisi Bulan sedang berada sedikit lebih jauh dari Bumi dalam orbitnya, sehingga tidak mampu menutup Matahari sepenuhnya seperti pada gerhana total. Akibatnya, bagian tepi Matahari tetap terlihat sebagai halo terang yang khas.

Annularitas berakhir saat siluet Bulan menyentuh kembali tepi luar Matahari, peristiwa yang disebut “kontak ketiga”. Cincin api pun terpecah, dan gerhana kembali memasuki fase sebagian ketika Bulan perlahan menjauh.

Sekitar satu jam kemudian, “kontak keempat” terjadi saat Bulan sepenuhnya meninggalkan piringan Matahari. Matahari pun kembali tampil utuh seperti biasa, menutup rangkaian fase gerhana.

Apakah gerhana matahari cincin aman dilihat dengan mata telanjang? Para ahli menegaskan bahwa melihat Matahari secara langsung tanpa pelindung dapat menyebabkan kerusakan mata permanen. Pengamatan harus menggunakan kacamata gerhana bersertifikasi ISO 12312-2 atau filter surya khusus pada teleskop dan teropong.

Kapan fenomena gerhana berikutnya? Secara astronomis, gerhana matahari dan gerhana bulan selalu terjadi berpasangan dalam satu musim gerhana. Setelah peristiwa 17 Februari ini, dunia akan menyaksikan gerhana bulan total atau “Blood Moon” pada 3 Maret, ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan sehingga bayangan Bumi membuat Bulan tampak kemerahan.

Gerhana bulan total tersebut diperkirakan dapat disaksikan oleh lebih dari satu miliar orang di berbagai wilayah Amerika Utara, Asia Timur, Selandia Baru, dan Australia. Rangkaian fenomena ini kembali menegaskan bahwa langit 2026 menjadi panggung pertunjukan kosmik yang jarang terulang dalam waktu singkat. (*)

Sumber: Space

KEYWORD :

Gerhana Matahari Cincin Api Fenomena Astronomi Gerhana matahari cincin




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :