Sabtu, 11/07/2020 18:10 WIB

PLN Dorong Penggunaan EBT Hingga 15.000 MW di 2028

PLN berperan aktif dalam gerakan global pengurangan emisi karbon dengan mengoptimalkan penggunaan pembangkit EBT

Wadirut PLN Darmawan Prasodjo (Antara)

Jakarta, Jurnas.com - PT PLN (Persero) dan Clean Energy Investment Accelerator (CEIA), yang diwakili World Resources Institute (WRI) Indonesia, teken Nota Kesepahaman tentang Asistensi Teknis Inovasi Produk Energi Baru Terbarukan untuk Sektor Komersial dan Industri.

Kesepakatan ini untuk mengembangkan berbagai inovasi produk energi baru dan terbarukan (EBT).

Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan, PLN berperan aktif dalam gerakan global pengurangan emisi karbon dengan mengoptimalkan penggunaan pembangkit EBT.

Hingga Desember 2019, PLN telah mengoperasikan pembangkit EBT sebesar 7.681 MW.

Ke depan, PLN juga akan terus mendorong penggunaan EBT hingga lebih dari 15.000 MW pada 2028.

“Dalam rangka mengembangkan kapasitas dan kemanfaatan renewable energy, PLN dan CEIA Indonesia bekerja sama melakukan studi dan penelitian terkait renewable energy certificate yang sesuai dengan lanskap ketenagalistrikan di Indonesia. Kami juga mengkaji potensi permintaan renewable energy di sektor komersial dan industri,” ungkap Darmawan, Kamis (24/1/2020).

Renewable energy certificate ini akan menjadi salah satu produk layanan PLN ke depan guna mendukung perkembangan penggunaan EBT di Indonesia, dengan banyak perusahaan multinasional memiliki komitmen kuat untuk berpartisipasi menggunakan EBT berstandar dan kualifikasi internasional.

“Melalui nota kesepahaman PLN dan CEIA Indonesia, kami berharap apa yang menjadi standar kualifikasi yang diharapkan pelanggan dapat dipenuhi oleh PLN. Sehingga partisipasi dari banyak pelanggan PLN terhadap penggunaan renewable energy semakin meningkat,” kata Darmawan.

Sementara itu, Direktur WRI Indonesia Nirarta Samadhi selaku perwakilan CEIA menambahkan bahwa pihaknya akan melakukan pendampingan teknis lain seperti penyiapan standar sistem pelacakan atribut energi atau yang dikenal sebagai renewable energy attribute tracking system.

“Termasuk dalam hal ini adalah sistem pencatatan, pelaporan, dan pengakuan atas kepemilikan, sesuai standar internasional,” jelasnya.

Nirarta menambahkan renewable energy attribute tracking system adalah suatu platform perdagangan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan penjual dan pembeli yang terlibat dalam pasar renewable energy certificate.

Setiap renewable energy certificate yang dikeluarkan oleh sistem ini mencakup informasi spesifik mengenai atribut energi baru terbarukan yang diwakilinya.

Nirarta menegaskan melalui nota kesepahaman ini, diharapkan seluruh perusahaan yang telah bergabung dengan CEIA Indonesia dapat mendorong penggunaan target EBT, salah satunya melalui renewable energy certificate.

TAGS : BUMN PLN EBT Darmawan Prasodjo




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :