Rabu, 13/11/2019 01:36 WIB

Teknologi Sulap Lahan Rawa Jadi Sumber Pangan

Kementerian Pertanian (Kementan) sudah mempersiapkan lahan rawa sebagai tulang punggung pertanian di masa depan.

Drone untuk menabur bibit (Foto:Humas Kementan)

Batola, Jurnas.com - Sentuhan teknologi untuk mengoptimalisasi Program SERASI (Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani) dapat menjadi kunci untuk memenuhi pangan 267 juta jiwa rakyat Indonesia.

Demikian kata Kepala Badan Litbang Pertanian, Fadjri Jufri di sela acara panen raya perdana padi di Demfarm SERASI, Desa Jejangkit Muara, Kecematan, Jejangkit, Kabupaten, Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Rabu (6/11).

Fadjri mengatakan, Kementerian Pertanian (Kementan) sudah mempersiapkan lahan rawa sebagai tulang punggung pertanian di masa depan. Karena itu, bila penerapan teknologinya, maka akan meningkatkan produktivitas petani secara signifikan.

"Kita sudah membuat model percontohan bagaimana pengolahan lahan rawa yang benar, mulai dari penataan lahannya, penataan airnya, termasuk inovasi teknologi yang ada didalamnya," ujar Fadjri.

Fadjri mengaku pihaknya telah mempersiapkan paket teknologi yang siap mendukung efektifitas dan efisiensi pertanian lahan rawa, dari proses olah tanah, tanam hingga panen. Potret teknologi lahan rawa bahkan di pamerkan melalui pengembangan Demfarm SERASI binaan Badan Litbang Kementan di Kabupaten tersebut.

Fadjri menambahkan, Demfarm dibangun untuk percepatan dan efektivitas adopsi teknologi oleh petani dalam upaya meningkatkan produksi pertanian dan kesejahteraan petani di lahan rawa.

"Teknologinya kami sudah punya, bagaimana mengatur tata airnya, di lahan rawa ini ada lapisan pirit namanya, oleh karna itu kita memperkenalkan traktor rawa berbentuk perahu, itu merupakan solusi bagaimana pengolahan tanah yang tepat di lahan rawa," terang Fadjri.

Meski masih dalam tahap prototipe, kata Fadjri traktor tersebut dapat mengolah satu hektar lahan dalam waktu satu jam, Ia menambahkan, pihaknya juga tengah memperkenalkan drone tanam berbasis GPS.

"Artinya di Jakarta pun saya tidak perlu kesini, saya bisa menginstruksikan dari jauh, itu outonomous, bisa ada treknya," jelas Fadjri.

Tidak hanya traktor perahu dan drone, Fadjri juga mengungkapkan ada teknologi mikroorganisme sebagai pemberat pada gabah yang ditebar, sehingga pada saat gabah tersebut masuk ke tanah bisa menyuburkan tanah sehingga daya tumbuhnya lebih baik.

"Selain itu, kami juga ada teknologi varietas unggul baru, kita punya Inpara 1 hingga 7, Inpara itu Inbrida Padi Lahan Rawa, ini yg banyak berkembang Inpara 4, potensinya bagus bisa sampai 6 ton kalo padi biasa 2-3 ton saja," jelas Fadjri.

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Sarwo Edhy mengungkapkan Indonesia memiliki 34 juta hektar lahan rawa lebak, 10 juta hektar hingga 17 juta hektar diantaranya dapat dijadikan lahan produktif pertanian.

"Tahun 2019 ini, pemerintah membuat semacam proyek percontohan lebih kurang 500.000 hektar yang awalnya terdiri dari tiga Provinsi, yakni Kalsel seluas 200.000 hektar Sumsel 250.000 hektar dan Sulsel 50.000 hektar," kata Sarwo Edhy.

Namun dalam perkembangannya, Sarwo Edhy mengatakan hasil validasi yang sudah diinventarisir dan di himpun, Sumsel hanya mampu 200.000 hektar, kalsel 120.000 hektar, dan sulsel 333.200 hektare, sehingga kekurangannya itu kita tawarkan ke Propinsi lain.

"Sulteng siap 25.000 ha kemudian lampung 25.600 ha jadi semua tetap lebih kurang 500.000 ha sbg pilot project percontohan utk 2019 ini," kata Sarwo Edhy.

Sarwo menambahkan sentuhan teknologi lahan rawa mampu meningkatkan indeks pertanaman hingga produktivitas, manfaatnya terasa bahkan hingga pendapatan petani.

"Jadi tujuan optimasi lahan rawa ini yang pertama meningkatkan indeks pertanaman dan yang kedua meningkatkan produktivitas per hektarnya, yang biasa panen 1 kali skrg 2 kali, yang provitas per hektarnya hanya 2 ton sekarang bisa diatas 5 ton, artinya dari sisi penghasilan bisa naik dua kali, dari sisi pertanaman juga bisa dua kalijadi untungnya berlipat-lipat," terang Sarwo Edhy.

Sementara itu, Salah satu petani lahan rawa di Jejangkit sekaligus Ketua Kelompok Tani Karya Membangun, Zainal Hakim, berterimakasih dan mengaku petani di wilayahnya sangat merasakan manfaat dari bantuan pemerintah lewat program SERASI.

"Kami sangat berterimakasih, atas bantuan dari Kementerian Pertanian, baik dari sisi pertanian modern maupun pendampingannya, kami dilatih bagaimana menjadi petani yang produktif, dulu sebelum ada program ini, produktivitas kami paling banyak hanya 3 ton per hektare sekarang bisa sampai 6 ton, bisa tanam hingga dua kali setahun, manfaatnya betul - betul terasa untuk kesejahteraan petani," ungkap Zainal.

TAGS : Kinerja Menteri Pertanian Fadjry Djufry Sarwo Edhy Kalimantan Selatan Penen Rawa




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :