Senin, 16/09/2019 15:07 WIB

Pemanasan Debat Cawapres, Jenggala Center Bedah Isu Ketenagakerjaan

Jenggala Center mengelar seri diskusi yang mengupas soal ketenagakerjaan. Digelar sebagai pemanasan jelang debat Cawapres, Minggu, 17 Maret 2019.

Diskuai Ketenagakerjaan di Jenggala Center

Jakarta, jurnas.com - Jenggala Center menggelar diskusi tematik jilid III bertajuk "Revolusi Industri 4.0 vs Ketenagakerjaan Kita” di kantor Jenggala Center, Jakarta Selatan, Jumat (15/3/2019).

Diskusi ini merupakan upaya Jenggala Center membedah isu ketenagakerjaan sebagai pemanasan menjelang debat Cawapres pada Minggu, 17 April 2019. 

Pembicara diskusi adalah Mantan Ketua Umum APINDO Sofjan Wanandi, Pakar Politik dan Hukum Setya Arinanto, serta Direktur Eksekutif Jenggala Center, Syamsuddin Radjab alias Bang Oleng.

Sofjan Wanandi berbicara tentang penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang menjadi fokus pemerintah dalam menghadapi industri 4.0.

Menurut Sofjan, penguatan SDM harus mendapat dukungan dari semua pihak. Sebab, SDM akan menentukan masa depan Indonesia.


"Tanpa SDM payah kita. Dan ini yang direncakan pak Jokowi, bukan lagi infrastruktur, tapi SDM," tutur Sofjan.

Ia mencotohan beberapa negara seperti Jepang dan China yang kuat karena didorong SDM handal. Menurut Sofjan, Indonesia bisa saja menjadi negara kuat asalkan SDM Indonesia mampu mengelola sumber daya alam nusantara yang melimpah.

"Kerena bangsa kita ini kaya suber daya alam. Penduduk kita banyak," tukas dia.

Soal tantangan Indonesia dalam menghadapi industri 4.0, Sofjan menyoroti masalah kerjasama antara pengusaha yang masih lemah.

Ia pun mendorong pengusaha pemula (startup) lebih giat, terbuka, dan transparan dalam melakukan kerjasama. Hal ini akan menguntungkan semua pihak, sekaligus meningkatkan daya saing Startup dengan pengusaha-pengusaha kelas atas.

"Jangan sendiri-sendiri, harus ada kerjasama untuk menghadapi (pengusaha) gede-gede. Itu enggak mungkin lagi bisa dilawan kalau tidak ada kerjasama," kata Sofjan.

Adapun Pakar Politik dan Hukum Setya Arinanto berpendapat, teknologi tidak mungkin dapat menggantikan posisi dan peran sentral manusia. Sebab, apapun itu, yang membuat teknologi berkembang pesat adalah manusia itu sendiri.

"Di China sudah ada pembaca berita perempuan, tapi itu robot. Dia baca teks berita-berita baru. Dia ngomong terus, tapi manusia tetap penting," katanya.

Dalam perspektif hukum dan politik, Setya menegaskan bahwa tetap akan ada kepentingan politik dan bisnis dalam implementasi industri 4.0 dan ketenagakerjaan. Dia mencontohkan soal peraturan outsourcing.

"Ada orang yang berusaha menghapus outsourcing tapi ada juga yang ingin mempertahankan. Ini karena kepentingan, walaupun sudah ada keputusan MK, walaupun tinggal mengubah UU atau menerbitkan peraturan pemerintah," katanya.

Bagi Satya, ada lima hal yang harus disiapkan Indonesia menghadapi industri 4.0 dan 5.0. Yakni komunikasi, kepemimpinan, kreasi, keingintahuan dan kelima literasi.

Lantas, apa buah pemikiran Direktur Eksekutif Jenggala Center, Syamsuddin Radjab?

Syamsuddin Radjab mengkritisi road map industri 4.0 yang menuritnya masih belum jelas. Padahal, road map tersebut sangat penting untuk melindugi sektor ketenagakerjaan.

"Apalagi serbuan tenaga asing tak bisa hindarkan. Makanya diperlukan regulasi yang ketat untuk melindungi hak-hak warga negara," katanya.

Syamsuddin Radjab yang biasa disapa Bang Oleng berharap, Presiden terpilih pada Pilpres 17 April 2019 dapat menempatkan isu ketenagakerjaan baik dalam maupun luar negeri menjadi bagian penting dari kebijakan nasional untuk menambah devisa.

"Outsourcing perlu dipertimbangkan untuk dievaluasi karena lebih banyak merugikan hak-hak tenaga kerja kita," demikian kata Syamsuddin Radjab.

TAGS : Jenggala Center Debat Cawapres Sofjan Syamsuddin Radjab




TERPOPULER :