Washington akan keluar dari perjanjian senjata nuklir yang berusia 31 tahun dengan Moskow, dengan alasan Rusia melanggar perjanjian dan menuntut masuknya China.
Menurut Ryabkov, AS telah mempertaruhkan kecaman dunia internasional, dalam upaya untuk melakukan supremasi total di bidang militer.
Sebelumnya, administrasi Trump akan memberi tahu para pemimpin Rusia minggu depan tentang rencana untuk keluar dari perjanjian penting, sebagian untuk memungkinkan Amerika Serikat melawan pembangunan senjata China di Pasifik.
Perjanjian tersebut menyulitkan AS mengembangkan senjata baru untuk memerangi upaya China yang berupaya mendominasi penguasaan senjata nuklir di Pasifik Barat.
Perjanjian ini di antaranya melarang memproduksi rudal nuklir dengan jarak tempuh 500 hingga 1.000 km. Hanya saja menurut Trump, Rusia masih melanggar ketentuan perjanjian.
Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih John Bolton mendorong Presiden Donald Trump untuk mundur dari perjanjian yang dirancang untuk mencegah perlombaan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia.
Trump bahkan belum berhasil menyatukan penandatangan terkait kesepakatan nuklir Iran dengan Inggris, Perancis, Jerman, Rusia dan China.
Setelah Washington 8 Mei dari Kesepakatan Iran, AS memberikan waktu 90 hingga 180 hari ke negara-negara lain untuk merombak pakta nuklir 2015 sebelum memberlakukan kembali sanksi-sanksi terhadap Teheran pada 4 November.
Untuk menciptakan lebih banyak momentum bagi diplomasi yang bertujuan meningkatkan hubungan dan meredakan krisis nuklir.
Larijani mengatakan, keluarnya Paman Sam dari kesepakatan nuklir multilateral 2015 di bulan Mei adalah contoh nyata tindakan sepihak itu.