Peningkatan kewaspadaan pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 harus dipahami bersama, mengingat potensi munculnya kasus sejumlah penyakit membutuhkan penanganan yang lebih fokus.
Hal ini terbukti dengan rawat inap secara nasional terus turun hingga 97% serta kematian turun hingga 98%.
Warga Indonesia yang telah menerima dosis ketiga atau penguat (Booster) hingga Minggu (8/5/2022) telah mencapai 41 juta jiwa atau 19,69 persen dari total target 208.265.720 jiwa.
Memasuki era new normal pasca pandemi Covid-19, serta melihat perkembangan geopolitik dunia akibat perang Rusia - Ukraina, sekaligus berbagai kondisi tatanan dunia yang semakin berkembang pesat akibat kemajuan teknologi informasi, membuat BIN juga harus bekerja extra keras.
Jumlah resmi kematian yang secara langsung disebabkan oleh COVID-19 dan dilaporkan ke WHO pada periode itu, dari Januari 2020 hingga akhir Desember 2021, sedikit lebih dari 5,4 juta.
Kasus trombosis dengan sindrom trombositopenia (TTS), yang melibatkan pembekuan darah disertai dengan tingkat trombosit yang rendah, sebelumnya telah dilaporkan pada penerima vaksin J&J.
Lembaga Perserikan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berbasis di Jenewa pada Kamis (5/5), memperkirakan hingga tiga kali lipat jumlah kematian yang dikaitkan langsung dengan penyakit tersebut.
Indonesia sangat diberikan penghargaan dalam penanganan pandemi Covid-19 dan kebangkitan dari pariwisata kita yang berbasis pariwisata berkualitas, berbasis komunitas, dan berkelanjutan ini adalah penopang kebangkitan ekonomi kita, penopang penciptaan peluang usaha, dan juga mampu membuka lapangan kerja seluas-luasnya
Kita tidak boleh lagi kecolongan. Penyebaran kasus Covid-19 yang sempat di luar kendali harus menjadi pembelajaran. Sejak awal pemerintah harus memiliki langkah antisipasi terhadap kasus hepatitis misterius yang telah terjadi di sejumlah negara.
Invasi Rusia ke Ukraina pada Februari telah menambah volatilitas di pasar keuangan, mengirim harga komoditas lebih tinggi dan mempengaruhi logistik, berpotensi menggagalkan pemulihan ekonomi dari COVID-19 di banyak negara termasuk Nigeria.