Sejak dua tahun lalu, nilau tukar (kurs) rupiah terus bergerak naik, semua dari Rp14.000-an per dolar AS pada tahun 2022, terus merangkak Rp14.500-15.000-an dolar AS di tahun 2023, dan pada semester I-2024 ini berada di level Rp15.400-16.400-an per dolar AS.
Tak hanya rupiah, mata uang di kawasan Asia juga mayoritas melemah. Yuan China melemah 0,02 persen, dolar Singapura turun 0,03 persen, baht Thailand melemah 0,02 persen dan peso Filipina turun 0,06 persen.
Saat ini semua negara mengalami hal yang sama, yakni tertekannya nilai mata uang mereka terhadap dolar AS.
Raihan ini melanjutkan tren pelemahan, ketika kurs rupiah kemarin tertekan menjadi Rp15.978/USD
Impor nonmigas April 2024 mengalami penurunan 10,51 persen menjadi 13,10 miliar dolar AS
Nilai tukar rupiah beberapa hari ini sangat mengkhawatirkan karena terus melemah, bahkan menembus Rp16.200 per dolar Amerika Serikat.
Indeks nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) menguat tajam mencapai level tertinggi 106,25 pada tanggal 16 April 2024
Maret 2024, Impor Indonesia Turun jadi 14,63 Miliar Dolar AS
Maret 2024, Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 4,4 Miliar Dolar AS
Kita perlu mengambil langkah yang menumbuhkan ‘growth’ negara, dengan belanja produktif. Kita juga perlu melakukan ekspor komoditas yang mengimbangi kelemahan rupiah.