Wacana poros ketiga yang sedang digalang Partai Demokrat dinilai akan menggerus elektabilitas Presiden Jokowi sebagai kandidat calon presiden (Capres) incumbent. Untuk itu, partai koalisi pendukung Jokowi diminta untuk berhati-hati.
Partai Demokrat sedang menggalang poros ketiga atau kekuatan baru yang disebut koalisi kerakyatan dalam menghadapi Pilpres 2019 mendatang. Wacana poros ketiga itu dinilai akan menggerus elektabilitas Presiden Jokowi.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendukung penuh Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar sebagai cawapres mendampingi Presiden Jokowi pada Pilpres 2019.
Partai Demokrat mengaku lebih senang jika poros ketiga atau poros baru bisa dibentuk dengan sejumlah partai politik untuk mengusung pasangan Capres dan Cawapres di Pilpres 2019.
Kandidat calon presiden dan calon wakil presiden (Capres dan Cawapres) yang lebih cepat untuk mengumumkan maju dalam kontestasi Pilpres 2019 dinilai lebih berpeluang untuk menang.
Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) KH Dimyati Rois menegur Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yang terkesan “one man show” dalam upayanya sebagai calon Wakil presiden (Cawapres) 2019 mendampingi Presiden Jokowi di Pilpres 2019.
Meski sudah mendekati pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden (Capres dan Cawapres), koalisi partai politik belum juga dapat dipastikan hingga menit-menit terakhir pendaftaran pada Agustus mendatang.
Posko Jokowi-Muhaimin Iskandar (JOIN) untuk Pilpres 2019 mulai membanjiri sejumlah wilayah di Indonesia. Pembentukan posko tersebut merupakan atas inisiatif dari masyarakat.
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) meluruskan pemberitaan soal ajakan Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Romi) untuk berkoalisi dengan Presiden Jokowi.
Wakil Ketua MPR Muhaimin Iskandar terus menggalang dukungan dari berbagai kalangan di masyarakat untuk pencalonannya sebagai wakil presiden mendatang.