Menguatnya aksi-aksi radikalisme jelas mengganggu agenda-agenda mendesak pemerintah
Harus ada political Will atau kemauan politik dari pemerintah dalam penanganan aksi terorisme di Indonesia.
Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengutuk keras tragedi pembantaian yang diduga kuat dilakukan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng) yang menewaskan satu keluarga. Menurut LaNyalla, aksi teror itu sudah di luar batas kemanusiaan.
Aksi teror berupa pembakaran gereja pos pelayanan dan pembunuhan empat jemaat gereja tersebut di Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Jumat (27/11) siang terus menuai kritik dan panen hujatan.
Kalangan dewan meminta pemerintah menggandakan kemampuan dan jumlah aparat keamanan dalam mengatasi aksi terorisme.
Bukan hanya harus menjalani proses hukum, dia juga diserang bertubi-tubi. Mulai dari aksi demonstrasi puluhan orang yang menuntutnya dihukum berat, hingga tuduhan-tuduhan di media sosial.
Komisi III DPR menyoroti dualisme dalam Perpres soal pelibatan TNI dalam aksi pemberantasan terorisme. Terdapat sejumlah catatan kritis yang disampaikan Komisi III DPR kepada pemerintah.
Koordinator aksi, Kaderman Saragih dalam orasinya menyampaikan 15 poin suara hati pedagang Pasar Rakyat.