Langkah Gedung Putih tersebut merupakan kelanjutan dari kebijakan AS untuk mengganggu ketertiban, keamanan dan perdamaian di Timur Tengah.
Rezim Bashar al-Assad dan sekutunya di Suriah masih terus melanggar kesepakatan Sochi dengan menyerang zona de-eskalasi Idlib.
Perusahaan Rusia dan Iran harus dilarang mengambil bagian dalam rekonstruksi selama rezim Assad tetap berkuasa.
Turki telah menolak tuduhan pemerintah Suriah bahwa mereka tidak memenuhi kewajibannya di bawah perjanjian untuk menciptakan zona demiliterisasi di sekitar wilayah Idlib yang ditentang oposisi.
Presiden Prancis mengatakan restrukturisasi Suriah yang inklusif sangat penting.
Ikatan politik juga menjadi tegang selama proses perdamaian Timur Tengah. Insiden tahun lalu di mana seorang penjaga keamanan Israel menewaskan dua warga Yordania di dalam kompleks kedutaan besar Israel menambah ketegangan.
Putin juga mengatakan negara-negara yang menyerukan Iran untuk meninggalkan Suriah harus memberikan jaminan bahwa mereka tidak akan mencampuri urusan Suriah.
Islamic State Iraq and Syria (ISIS) menangkap menyandra 700 orang di bagian Suriah yang dikuasai oleh pasukan dukungan Amerika Serika (AS) dan telah mengeksekusi beberapa dari mereka.
Pekan lalu, sistem rudal S-300 pertama, yang terdiri dari empat peluncur, tiba di Suriah dan tentara Suriah dijadwalkan akan menerima pelatihan tentang cara menggunakannya dalam waktu tiga bulan
Organisasi non-pemerintah yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Watch (HRW) menuding rezim Suriah mencegah orang-orang terlantar di daerah yang sebelumnya dipegang oleh pasukan oposisi