Pasukan pemerintah yang didukung Amerika Serikat (AS) menaklukkan kawasan terakhir ISIS yang berada di dekat benteng terakhir mereka di perbatasan Irak.
Pernyataannya diyakini terkait dengan ketidakhadirannya dalam dua pertemuan terpisah yang dilakukan Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Media Suriah dan Iran merilis foto yang menunjukkan Assad, mengenakan setelan gelap berpelukan dengan Khamenei dan berjabat tangan dengan Rouhani, keduanya tersenyum.
Mayoritas tentara ISIS yang diserahkan merupakan warga negara Prancis menurut dua sumber militer Irak, pada Minggu (25/2).
Turki, yang telah menghabiskan 37 miliar dolar AS untuk menampung 3,6 juta warga Suriah, menegaskan bahwa mereka tidak dapat menerima lagi pengungsi dari negara yang dilanda perang.
Menteri pertahanan Turki memperingati para pejabat Pentagon bahwa tidak boleh ada kekosongan kekuasaan selama penarikan pasukan AS dari Suriah, Sabtu (23/02) waktu setempat.
Trump memutuskan untuk meninggalkan beberapa pasukan karena tekanan dari penasehat yang cenderung memastikan perlindungan pasukan Kurdi yang mendukung perang melawan ISIL dan yang sekarang mungkin terancam oleh Turki.
Bagi yang mencoba melarikan diri, menurut Ketua Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet, militer ISIS tidak segan-segan menghentikan mereka dengan senjata api.
Di balik pagar sebuah kamp di wilayah yang dikuasai Kurdi di Suriah, para tahanan mengenakan kerudung hitam panjang yang hanya memperlihatkan mata mereka duduk bersama dengan tiga anaknya.
Trump menuntut Inggris, Prancis, Jerman dan sekutu Eropa lainnya menampung kembali 800 mantan anggota ISIS yang tertangkap di Suriah.