Nasrullah menjelaskan, secara garis besar peta ketersediaan dan pasokan bahan pangan pokok di wilayah NTT dalam jumlah yang cukup dan relatif aman.
Jumlah tersebut diperkirakan meningkat 40% dibandingkan dengan volume mudik di masa pra pandemi Covid-19 pada tahun 2019.
Komoditas peternakan yang sering disebut emas putih ini terbukti strategis di pasar ekspor dan diminati banyak negara.
Dugaan tersebut dikonfirmasi lewat pegawai PNS pada Ditjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri Ochtavian Runia Pelealu pada Rabu (20/4) kemarin.
Program DKS merupakan pengembangan kawasan peternakan berbasis korporasi peternak yang dicetuskan Kementan mulai 2020 dengan lima lokasi, yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, Lampung dan Jawa Timur.
Gelaran GPM ini disambut dengan sangat antusias oleh masyarakat sekitar karena harga yang dipatok jauh lebih murah dari harga pasar.
Kementan telah menyiapkan peta intervensi, jika ada daerah yang kekurangan stok bahan pangan seperti daging ayam, telur dan daging sapi dan bahan pangan pokok lainnya.
Di Provinsi Kalimantan Tengah, data ketersediaan dan harga yang diperoleh dari 14 kabupaten dan kota secara rutin dilaporkan setiap hari Jumat melalui Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertanian.
Survei yang dilakukan di Pasar Antasari menunjukkan pada Sabtu (9/4), di tingkat eceran belum ada komoditas yang mengalami kenaikan.
Lokasi Food Estate seluas 50 hektare kentang industri tersebut telah dipersiapkan untuk mensuplai kebutuhan kentang industri dengan harga pembelian senilai Rp 7.650 per kilogram.