Sebuah penelitian menemukan bahwa obat antimalaria yang kerap dipuji Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, ternyata memiliki efek berbahaya.
Pasien virus corona baru (Covid-19) tidak akan menularkan virus tersebut setelah 11 hari sakit.
Berdasarkan penelitian lembaga tersebut, tiga strain virus corona di Wuhan tidak cocok dengan Covid-19 di seluruh dunia, dengan kemiripan tidak sampai 80 persen.
Para ahli mengatakan, populasi baru bisa dikatakan mencapai kekebalan kawanan terhadap virus, ketika sekitar 60 persen orang telah memiliki antibodi virus tersebut.
Presiden RI Joko Widodo meresmikan peluncuran 55 produk riset, teknologi, dan inovasi terkait penanganan virus corona baru (Covid-19), yang merupakan hasil karya anak bangsa.
S309, antibodi yang ditemukan dalam darah pasien yang pulih dari SARS berpotensi untuk menetralkan virus corona baru (Covid-19)
Dalam makalah tersebut, keduanya mengaku terkejut setelah mengetahui bahwa Covid-19 sudah disesuaikan sedemikian rupa dengan penularan manusia.
Pendanaan yang diberikan melalui Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 tersebut juga dimaksudkan untuk melakukan diseminasi hasil penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan (Litbangjirap) Covid-19, serta mendorong hilirisasi.
Para peneliti di London School of Hygiene dan Tropical Medicine akan melakukan fase pertama percobaan, bekerja sama dengan Universitas Durham dan Anjing Deteksi Medis amal.
Sebuah survei keluarga di Inggris menunjukkan bahwa siswa kaya menghabiskan waktu untuk pendidikan lebih lama dari pada siswa miskin