Pada kasus stunting di Indonesia, angka yang besar tersebut disebabkan oleh banyaknya jumlah ibu yang mengalami kekurangan asupan gizi mikro
Masalah stunting ini bukan masalah sepele. Terlebih, di Indonesia angka prevalensi stunting masih cukup tinggi, yakni 27,67 persen.
Peraturan Presiden (Perpres) 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting mengamanatkan agar setiap catin pasangan usia subur berada dalam kondisi ideal untuk menikah, dan hamil.
Pelaksanaan rencana aksi nasional memiliki tentangan yang cukup berat meningat sisa waktu pelaksanaannya relatif pendek dan target penurunan stunting yang cukup ambisisius 14 persen pada pertengahan tahun 2024
Inovasi revolusioner yang masif, serentak, dan cepat sangat diperlukan dalam menurunkan angka prevalensi stunting hingga 14 persen.
Balita atau Baduta yang akan dievaluasi sebagai balita stunting dan tidak stunting di pertahanan tahun 2024 adalah mereka yang lahir di pertengahan Juli 2019 sampai yang lahir di akhir Juli tahun 2024.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyebut penurunan angka stunting di Indonesia membutuhkan kerja ekstra keras.
BKKBN menyambut baik inisiatif Nestlé untuk terlibat secara konkret dalam penanggulangan stunting di Indonesia karena masalah kesehatan masyarakat ini memerlukan keterlibatan banyak pihak.
Ada lima elemen yang harus bahu membahu atau yang dikenal dengan penta helix dalam perang melawan stunting. Penta helix sendiri sudah terbukti manjur dalam penanganan COVID-19 di Tanah Air.
Masalah stunting masih menjadi perhatian pemerintah karena berpotensi mengganggu potensi sumber daya manusia (SDM). Saat ini, status Indonesia masih berada di urutan 4 dunia dan urutan ke-2 di Asia Tenggara terkait kasus balita stunting.