Kompetisi akbar tiga tahunan antar pesantren di bawah Kementerian Agama (Kemenag) tersebut akan diikuti oleh para santri terpilih dari seluruh Indonesia.
Kemenag tidak akan menggunakan kekerasan sesuai protap dari pihak berwajib yang menjadi bagian dari tim penertiban tersebut.
Para kiai paham, kemenag harus berada di garda depan dalam mengatasi radikalisme berbasis agama.
Posisi-posisi itu adalah kementan, kemendag, kemensos, keme par, kemenkominfo, dan kemenag.
Menkominfo mengimbau generasi muda menjaga diri dari pengaruh buruk hoaks, fitnah, dan adu domba (namimah), melalui pendidikan Islam.
Kemenag membantah akan menghapus materi mengenai perang di zaman Nabi Muhammad SAWW, dalam kurikulum mata pelajaran (mapel) Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) terbaru.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Kamaruddin Amin menjelaskan, minimnya mahasiswa yang direkrut karena UIII belum akan menerima jenjang sarjana (S1).
Regulasi ini dinilai akan menguntungkan pesantren, karena akses mendapatkan suntikan dana menjadi lebih besar, setelah sebelumnya hanya mengandalkan pendanaan lewat Kemenag.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) Kemenag Kamaruddin Amin mengatakan, penyampaian aspirasi melalui demonstrasi tidak masalah, selagi tidak menimbulkan keonaran.
Dalam kegiatan `The World Scholar`s Cup` di Manila, Filipina yang digelar pada 6-11 September 2019, madrasah tersebut berhasil memborong sejumlah medali emas dan perak.