Ketegangan antara Washington dan Teheran telah meningkat sejak Presiden AS Donald Trump menarik AS dari perjanjian nuklir internasional 2015 dan memberlakukan sanksi ekonomi sepihak terhadap Iran, terutama menargetkan transaksi energinya di pasar global.
Washington menekan Iran karena program rudal nuklir dan balistiknya, dan mengobarkan perang proksi di negara-negara Timur Tengah lainnya.
Washington juga harus memutuskan hubungan militernya dengan negara yang diklaim berada di bawah kebijkan Satu China itu.
Iran sebagai suatu negara sudah gagal setelah Washington memberlakukan sanksi kuat tahun lalu.
Abe juga akan berusaha untuk mengurangi ketegangan antara Teheran dan Washington selama perjalanan.
Hassan Rouhani menyampaikan bahwa tawaran pembicaraan tanpa prasyarat dari Washington sebagai tanda kekuatan Iran.
Di tengah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, Washington bersedia melakukan pertemuan dengan Iran tanpa syarat.
Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan Iran tidak akan bernegosiasi dengan Washington, tetapi Rouhani mengisyaratkan kemungkinan melakukan negoisasi, jika sanksi yang diberlakukan di negara itu dicabut.
Presiden Iran Hassan Rouhani memuji ketabahan bangsa Iran dalam pertempuran keras melawan Amerika Serikat selama setahun terakhir, dengan mengatakan sikap menentang tekanan Washington menyebabkannya mundur
Nasrallah mengatakan gagasan perang di kawasan itu "dibuat-buat" karena Washington dan sekutunya tahu mereka akan membayar mahal untuk agresi terhadap Teheran.