Sebelum menuju Ankara, Erdogan, yang memerintah Turki selama lebih dari 15 tahun sebagai perdana menteri dan presiden, menyampaian pidato kepada para pendukungnya yang bersorak-sorai, bendera-bendera dari atas sebuah bus di kota terbesar di negara itu, Istanbul.
Dalam pemilihan anggota parlemen, Partai Pembangunan dan Keadilan yang saat ini menguasai, memperoleh 42,5 persen suara setelah 96,5 persen suara dihitung.
Erdogan juga mengatakan oposisi "tidak peduli" tentang isu-isu utama Turki seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan, pariwisata dan transportasi.
Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan, pasukan keamanan dan lembaga peradilan akan segera mengungkap dalang insiden itu.
Sekitar 60 Imam dan keluarga mereka diusir. Wina mengatakan mereka dibiayai oleh Ankara, melanggar larangan keuangan asing organisasi keagamaan.
Presiden Turki berkata Turki akan memberi respons kepada pemerintah Austria yang mengusir para imam.
Erdogan memaparkan upaya pemerintahannya yang telah membangun kembali provinsi itu, termasuk pembangunan 17 rumah sakit, 43 fasilitas kesehatan
Majalah Mingguan Perancis Le Point menampilkan foto presiden Turki di sampul edisi 24 Mei dengan kata-kata yang berbunyi: "Sang diktator. seberapa jauh Erdogan akan pergi?"
Sebelumnya, Hanitzsch juga menggambar kartun yang mengkritik, bahkan menghina Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan selamat berkat argumen kebebasan pers dan ekspresi.
Erdogan menegaskan Turki adalah negara yang selalu menunjukkan sikap tegasnya dalam persoalan Palestina.