Lebih dari 112.000 orang telah meninggalkan Afghanistan melalui pengangkutan udara besar-besaran yang dipimpin AS sejak gerakan Taliban kembali berkuasa dua minggu lalu, dan operasi itu mereda meskipun kekuatan Barat mengatakan ribuan orang mungkin tertinggal.
Rusia mengutuk serangan teroris di bandara Kabul Afghanistan yang menewaskan sedikitnya 90 orang termasuk 13 tentara Amerika Serikat.
Serangan tersebut dilakukan sehari setelah bom bunuh diri di bandara Kabul, yang menewaskan 13 tentara AS dan sejumlah warga sipil Afghanistan.
Dewan Keamanan juga menegaskan kembali pentingnya memerangi terorisme di Afghanistan untuk memastikan wilayah Afghanistan tidak boleh digunakan mengancam atau menyerang negara mana pun.
Taliban meminta bantuan teknis kepada Turki untuk menjalankan bandara, tetapi menuntut agar militer Ankara ditarik hingga batas waktu akhir 31 Agustus 2021.
Dua ledakan menghantam gerbang bandara Kabul yang padat pada Kamis (26/8), menewaskan 13 pasukan Amerika Serikat dan 60 warga Afghanistan, serta melukai ratusan orang lainnya.
Pembom bunuh diri menyerang kerumunan orang yang berkumpul di luar bandara Kabul berharap untuk melarikan diri dari Afghanistan yang dikuasai Taliban.
Dia menegaskan kembali batas waktu 31 Agustus bagi semua pasukan AS untuk meninggalkan Afghanistan dan mengatakan pasukan AS akan menerbangkan sebanyak mungkin orang sebelum tanggal itu.
Dalam sebuah pernyataan, ISIS mengaku bertanggung jawab dan mengatakan salah satu pelaku bom bunuh diri menargetkan penerjemah dan kolaborator dengan tentara AS.
Video yang direkam oleh wartawan Afghanistan menunjukkan puluhan mayat berserakan di sekitar kanal di tepi bandara. Saksi mata mengatakan, setidaknya dua ledakan mengguncang daerah itu.