Pesta demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) serentak tahun 2019 yang dilaksanakan pada tanggal 17 April terbilang sukses, aman dan damai. Di balik itu semua, terdapat duka mendalam dengan meninggalnya lebih dari 500 petugas Pemilu.
Pelaksanaan Pemilu 2019 secara serentak sangat menguras tenaga dan pikiran, Tidak sedikit petugas KPPS yang meninggal akibat kelelahan, termasuk Anggota Polri.
Avengers: Endgame memecahkan rekor pembukaan akhir pekan terbesar, setelah membukukan pendapatan fantastis hanya empat hari sejak tayang serentak
Korban meninggal dunia akibat pelaksanaan Pemilu serentak 2019 dikabarkan sudah mencapai 326 jiwa. Ratusan nyawa yang berjatuhan saat Pemilu 2019 menuai tanda tanya besar dari sejumlah pihak.
Wakil Ketua MPR RI Dr. Mahyudin, ST, MM mengungkapkan bahwa pelaksanaan Pemilu serentak 2019 pada tanggal 17 April 2019 berjalan sangat baik, lancar tanpa konflik dan harus disyukuri seluruh rakyat Indonesia
Wakil Ketua MPR Mahyudin tidak percaya adanya kecurangan dalam kontestasi Pilpres 2019. Ia meyakini kredibilitas Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara Pemilu serentak 2019.
Sistem Pemilu serentak 2019 yang mengakibatkan ratusan orang meninggal dunia harus menjadi evaluasi presiden Jokowi sebagai pengusul perubahan Undang-Undang Pemilu dan partai politik.
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai, pelaksanaan Pemilu serentak 2019 di Indonesia terburuk sepanjang sejarah di dunia. Sebab, sistem Pemilu kali ini telah merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pemilu serentak 2019 dikabarkan mengakibatkan sebanyak 139 orang meninggal dunia. Ratusan petugas penyelenggara Pemilu yang meninggal dunia itu disebut akibat kelelahan dan lain sebagainya.
"Ke caleg merugikan, ke presiden merugikan, ke partai merugikan, konstrasi jadi terpecah. Sehingga egoisme caleg muncul, egoisme partai muncul, persiangan antar partai begitu kuat sehingga sangat sulit," ujar Karding.