Sistem Pemilu serentak 2019 yang mengakibatkan ratusan orang meninggal dunia harus menjadi evaluasi presiden Jokowi sebagai pengusul perubahan Undang-Undang Pemilu dan partai politik.
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai, pelaksanaan Pemilu serentak 2019 di Indonesia terburuk sepanjang sejarah di dunia. Sebab, sistem Pemilu kali ini telah merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pemilu serentak 2019 dikabarkan mengakibatkan sebanyak 139 orang meninggal dunia. Ratusan petugas penyelenggara Pemilu yang meninggal dunia itu disebut akibat kelelahan dan lain sebagainya.
Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyampaikan rasa prihatin dan belasungkawa atas meninggalnya 54 petugas KPPS dan 10 aparat kepolisian saat menjalankan tugas Pemilu sejak 17 April 2019 lalu.
Ketum GP Ansor memberikan apresiasi yang tinggi kepada para petugas penyelenggara pemilu di lapangan yang bekerja secara serius tanpa kenal lelah.
Petugas TPS diketahui bernama Deden Damanhuri, ketua KPPS di TPS 03 Desa Cipeundeuy, Kecamatan Bojong, Purwakarta.
Lebih dari 400 petugas pemadam kebakaran diturunkan untuk menjinakkan api yang memakan atap dan meruntuhkan menara katedral berusia delapan abad tersebut.
Petugas gabungan berhasil mengamankan uang ekuivalen dengan total senilai Rp90 miliar lebih. Uang itu dalam bentuk mata uang asing.
Bynes awalnya mengatakan kepada polisi bahwa dia menembak Banks untuk membela diri, tetapi petugas mengatakan dia menembak remaja itu dari balkonnya ketika Banks pergi dan menuruni tangga.
Polisi dan petugas medis mengatakan sebuah rumah tersambar roket terbakar, dan enam orang terluka.