Sikap berbalik mengemuka dari sosok Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Arief Poyouno yang biasanya selalu cadas mengkritik pemerintah.
Arief dianggap tidak mengerti sejarah bangsa ini dan diyakini berbicara hanya sebagai alat untuk membentuk opini miring.
Secara kalkulasi politik sangat wajar bila PDIP atau setidaknya Golkar, juga akan mendukung RK.
Jangan lupa dalam dua pilkada terakhir, Jabar telah menjadi kuburan tokoh-tokoh yang terlalu percaya diri pada modal popularitas dan elektabilitas.
Dari empat calon yang melakukan pendaftaran, tersisa hanya Arief R Wismansyah setelah dua orang tidak masuk seleksi dan satu lagi mengundur diri jelang jadwal pemaparan visi misi.
Dalam skala nasional pecahnya kongsi PKS-Gerindra di Jabar bisa menjadi pintu masuk perpecahan koalisi permanen secara nasional.
Jadi pertemuan tadi malam merupakan peringatan bagi Jokowi.
Dengan penampilan semacam itu tidak mungkinlah Jokowi menjadi diktator. Apalagi latar belakangnya juga sipil, bukan militer.
Apakah ini merupakan sandyakalaning Golkar? Tanda-tanda akan berakhirnya masa keemasan partai yang berjaya sepanjang Orde Baru berkuasa?