Untuk mengamankan pasokan beras ditengah pandemi COVID-19, Kementan telah melakukan gerakan percepatan tanam padi 5,6 juta hektar, pada musim tanam dua di 33 provinsi.
Pengolahan lahan maupun penanaman padi yang dilakukan semuanya mengunakan alat mesin pertanian (alsintan), baik itu traktor roda empat dan alat tanam padi (Rice Transplanter).
Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani) yang pusat gerakannya ada di kecamatan turut dalam pengawasan penyediaan pangan di tengah pandemi COVID-19.
Imunisasi mencegah serangan hama sekaligus memperkuat fungsi akar, batang dan daun sehingga tanaman mampu tumbuh secara optimal dalam memanfaatkan pupuk, iklim dan air.
Penyuluh pertanian makin gencar mengawal petani melakukan percepatan tanam dengan memanfaatkan ketersediaan air di tengah ancaman musim kemarau.
Petani di Bone tetap bersemangat bekerja memanen padi musim tanam Oktober-Maret.
Jika padi inbrida rata-rata menghasilkan 8-10 ton per hektare, maka padi hibrida bisa mencapai 12 ton lebih per hektare.
Manggarai Timur melakukan kegiatan panen padi dari akhir Maret dan puncaknya di Mei 2020.
Penyuluh pertanian pendamping di wilayah Kostratani Kecamatan Banjit, Miswarajayadi menambahkan, dengan combine harvester panen padi bisa dilakukan dengan waktu yang singkat dan tenaga panen pun hanya dua orang saja.
Penyakit Blight Leaf Bacterial (BLB) kerap disebut Kresek dan blas (rice blast) digusur melalui Gerakan Pengendalian, beberapa waktu lalu.