Sejak kontributor Washington Post itu tewas di Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, menuai banyak kritikan internasional.
Kaabi mengecam pernyataan Presiden AS, Donald Trump yang mengatakan akan tetap membiarkan militernya di Irak untuk memantau garak gerik musuhnya, Iran.
Polisi dan pejabat medis mengatakan sebuah bus yang membawa peziarah Syiah Iran telah diserang di Irak
Penghalang itu, yang akan berdiri enam meter dari tanah, kata Netanyahu, akan dibangun dengan dalih mencegah infiltrasi warga Palestina dari Jalur Gaza ke Israel.
Trump menunjuk instalasi militer di Irak, yang dapat digunakan AS untuk memfasilitasi operasi jika diperlukan.
Departemen Pertahanan Amerika Serikat menyebutkan, Pentagon mengirim 3750 pasukan AS ke perbatasan barat daya dengan Meksiko selama tiga bulan untuk memberikan dukungan tambahan kepada agen-agen perbatasan.
Presiden dengan jargon Make America Great Again itu menyoroti pentingnya pangkalan militer utama di Irak untuk pengawasi kegiatan Republik Islam Iran yang mengancam.
Erdogan telah lama bersikeras bahwa perintah untuk membunuh Khashoggi di konsulat kerajaan di Istanbul empat bulan lalu berasal dari pesanan pejabat tingkat tertinggi pemerintah Saudi.
Peluncuran tersebut menandai peringatan 40 tahun Revolusi Islam 1979, masa di mana Iran resmi menjadi Republik Islam lewat referendum nasional.
Kebijakan yang dipelopori Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman itu berhasil memulihkan dana sebesar USD106 miliar dari para tersangka.