Iran adalah mitra dagang Timur Tengah terbesar ketiga Korea Selatan sebelum AS secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 antara Teheran dan kekuatan dunia dan menerapkan kembali sanksi yang melumpuhkan.
Pernyataan itu disampaikan setelah permintaan Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian, untuk membebaskan aset senilai 10 miliar dolar sebagai isyarat niat baik.
Israel menuding Iran di balik serangan yang menyasar warganya di Siprus, setelah polisi di pulau Mediterania itu menangkap individu bersenjata sebelumnya.
Musuh lama yang memutuskan hubungan pada 2016 memulai pembicaraan pada April, pada saat Washington dan Teheran sedang mendiskusikan menghidupkan kembali pakta nuklir yang ditentang Riyadh dan sekutunya.
Bahrain dan Uni Emirat Arab menormalkan hubungan dengan Israel tahun lalu dalam kesepakatan yang ditengahi Amerika Serikat (AS) yang dikenal sebagai Kesepakatan Abraham. Sudan dan Maroko mengikutinya.
Tes tersebut menyoroti bagaimana Korea Utara terus mengembangkan senjata yang semakin canggih, meningkatkan pertaruhan upaya untuk menekannya agar menghentikan program nuklir dan misilnya dengan imbalan keringanan sanksi AS.
Hal ini disampaikan oleh Duta Besar AS untuk Indonesia, Sung Kim, secara daring pada Rabu (29/9), di tengah kekhawatiran Indonesia dan Malaysia bahwa pakta tersebut akan memicu perlombaan senjata di kawasan.
Kerajaan mendukung upaya internasional memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir dalam jangka pendek dan panjang.
Pengembangan sistem senjata meningkatkan kemampuan pertahanan Korea Utara, kata KCNA, menggambarkan rudal hipersonik sebagai senjata strategis.