Amerika Serikat (AS), Arab Saudi dan sekutu mereka sepenuhnya bertanggung jawab atas konsekuensi bencana karena tidak mengizinkan Yaman menjual minyak mentah yang dimuat di kapal tanker itu.
Yaman akan meningkatkan produksi minyak mentahnya sebesar 25% menjadi 75.000 barel per hari dalam beberapa bulan mendatang.
China menolak mentah-mentah rencana Amerika Serikat (AS) untuk memperpanjang embargo senjata PBB terhadap Iran.
Daress meminta agar mengizinkan pembongkaran minyak mentah dari sebuah kapal tangki yang mengapung di lepas pantai kota pelabuhan Hudaydah di Yaman.
Sumber di Perusahaan Minyak Basra mengkonfirmasi bahwa mereka telah memulai rencana pengurangan pada 1 Mei di ladang minyaknya.
Peningkatan ini terjadi karena faktor barang yang diekspor tidak lagi dalam berbentuk barang mentah, akan tetapi sudah diolah menjadi makanan bermutu yang digemari masyarakat dunia.
Iran sudah mengirimkan 135 juta metrik ton barang dan produk non-minyak mentah ke negara lain antara Maret 2018 dan Maret 2020.
Arab Saudi akan menjual sekitar 600.000 barel minyak mentah per hari ke Amerika Serikat pada bulan April.
Sekelompok anggota dewan dari Partai Republik (GOP) Amerika Serikat, mengancam Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman, agar memotong produksi mentahnya.
Setelah pengumuman ini, harga minyak mentah jenis WTI naik 5,1 persen ke US$ 33,13 per barel sementara Brent naik 5,1 persen ke US$ 34,93 per barel