Di tengah gejolak pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, sejumlah anggota keluarga penguasa Arab Saudi berupaya mencegah Putra Mahkota Mohammed bis Salman (MBS) menjadi raja
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan siap menawarkan pengampunan kepada Pangeran Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, jika mengaku dalang dari pembantaian brutal, kejam dan membunuh dari kontributor Washington Post, pembangkang Arab Saudi, Jamal Khashoggi.
CIA menahan Putra Mahkota Saudi, Mohammad bin Salman, yang bertanggung jawab atas pembunuhan 2 Oktober.
Kesimpulan CIA bertentangan dengan klaim pemerintah Saudi yang menyebut bahwa sang pangeran tidak terlibat dalam pembunuhan keji tersebut.
Jaksa Arab Saudi menuntut hukuman mati bagi lima tersangka pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Sementara, Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman masih bebas dari kesalahan apapun.
Salah satu daftar yang terhukum itu bernama Saud al-Qahtani, dia mantan pembantu utama Putra Mahkota Mohammed bin Salman serta Konsul Jenderal Saudi, Mohammed Alotaibi.
Pangeran Arab yang berbelok, Pangeran Khalid Bin Farhan Al Saud mengharapkan kudeta akan diatur terhadap Raja Salman dan pewarisnya, Pangeran Mohammed Bin Salman.
Israel, Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA) mendukung keras Pangeran Bin Salman terkait pembunuhan Khashoggi.
Mohammed Bin Salman (MBS) menyebut jurnalis Jamal Khashoggi, yang terbunuh di Konsulat Saudi sebagai sosok Muslim yang berbahaya.
Kini kehadiran Pangeran Ahmed bin Abdulaziz, adik dari Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz yang menghilang dari kerajaan membuat publik bertanya-tanya.