Seluruh elemen bangsa harus bersinergi dan bersatu padu dalam melawan segala bentuk aksi terorisme yang akhir-akhir ini sedang marak terjadi di Tanah Air.
Ketua DPR RI Puan Maharani mengawali pidato Penutupan Masa Persidangan IV tahun Sidang 2020-2021 dengan mengungkapkan dukacita.
Terorisme adalah kelompok yang sejak awal sudah disinyalir oleh nabi.
Ketidakpuasan terhadap kebijakan yang diambil pemerintah bisa menimbulkan gerakan atau pemikiran radikal. Terutama terkait kebijakan yang berbasis agama maupun ideologis.
Wakil Ketua MPR RI, Arsul Sani menyebutkan program deradikalisasi yang telah memakan biaya triliunan rupiah masih belum berhasil.
Kalangan dewan memberikan apresiasi terhadap ketegasan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan jajaran Kepala Badan Intelijen dan Keamanan (Kabaintelkam) Polri Komjen Pol. Paulus Waterpauw atas garansi keamanan pascaaksi bom bunuh diri di Gereja Kathedral Hati Yesus Maha Kudus di Makassar dan penembakan di Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia pekan lalu.
Wacana tentang penanganan tindak terorisme di Indonesia harus digeser. Para pihak-pihak terkait, seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme sebaiknya mengedepankan pencegahan ketimbang tindakan-tindakan yang sifatnya represif.
sekecil apa pun tantangan yang dihadapi dalam merawat kemajemukan, haruslah diatasi secara sungguh sungguh.
Bagi Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin, sudut pandang aksi teror yang menyebutkan bahwa selain agama Islam mereka adalah orang kafir adalah penafsiran yang keliru.