Lonjakan ekspor pangan pertaniannya dari Iran selama dua tahun terakhir, dipicu oleh sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap ekspor minyak. Hal itulah yang mendorong petani di Iran beralih menanam gandum dan beras.
Iran adalah negara Timur Tengah yang paling parah terkena virus corona, dengan sekitar 1.700 kematian, lebih dari 21.000 orang yang terinfeksi dan satu orang meninggal akibat virus tersebut setiap 10 menit.
Iran belum diwakili dalam pertemuan yang diadakan awal pekan ini melalui konferensi video antara menteri ekonomi kawasan MENA.
Pembatasan baru datang ketika Iran meningkatkan kampanyenya untuk mengurangi penyebaran penyakit virus corona yang belakangan dikenal COVID-19.
AS menolak untuk mencabut sanksi kejam yang menghambat upaya Iran untuk mengendalikan virus corona. Sebaliknya menyatakan kesiapan untuk membantu Iran memerangi wabah tersebut.
Iran mengalami lonjakan kasus infeksi virus corona baru (Covid-19) pada Sabtu (21/3) petang, setelah Kementerian Kesehatan Iran mengumumkan 966 kasus baru.
Tak kurang dari 123 pasien virus corona baru (Covid-19) di Iran meninggal dunia selama 24 jam terakhir.
Washington berusaha untuk meningkatkan tekanan pada Iran melalui sanksi dalam upaya untuk memaksa negara itu tunduk di bawah tekanan, namun masih keukeuh menolak.
Perusahaan itu di antaranya Petro Grand FZE, DMCC Alfabet Internasional, DMCC Perdagangan Swissol, General Althrwa General Trading LLC, dan Alwaneo LLC Co.
Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengklaim selama konferensi pers di Washington D.C. pada Selasa (17/2) bahwa virus Wuhan itu adalah pembunuh dan rezim Iran adalah kaki tangannya.