Badan legislatif China menyepakati resolusi kontroversial, yang memungkinkan Beijing mengontrol ketat pemilihan umum (pemilu) di Hong Kong.
China telah mengembangkan beberapa vaksin di dalam negeri dan telah memulai upaya vaksinasi sendiri, dengan rencana untuk memvaksinasi 40 persen dari populasinya pada Juli.
Tidak ada demokrasi di Hong Kong selama masa kolonial, dan China yakin reformasi pemilu akan menguntungkan.
Eskspor melonjak 60,6 persen per tahun di periode Januari hingga Februari, jauh di atas ekspektasi analis, sementara impor naik 22,2 persen.
Presiden Joe Biden akan menekankan diplomasi atas aksi militer dan membangun kerja sama dengan dunia dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan COVID-19.
Target tersebut adalah yang pertama ditawarkan China secara publik sejak memulai kampanye imunisasi massal untuk kelompok-kelompok kunci pada pertengahan Desember.
Otoritas kesehatan juga mengevaluasi vaksin COVID-19 yang diproduksi oleh Gamaleya Research Institute Rusia, dan fasilitas pembotolan lokal untuk vaksin Sinovac.
Duterte menegaskan tidak akan menjadi orang pertama yang divaksinasi, dan memilih untuk menunggu vaksin merek China selain Sinovac.
Sebuah jajak pendapat yang diterbitkan pada bulan Januari oleh University of Hong Kong menemukan responden khawatir tentang kemanjuran vaksin China.