Pemerintahan Presiden Joe Biden mengatakan pekan lalu bahwa pihaknya siap untuk berbicara dengan Iran tentang kedua negara yang kembali ke perjanjian itu, yang bertujuan untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir sambil mencabut sebagian besar sanksi internasional.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh bereaksi terhadap pernyataan pada Minggu oleh penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jake Sullivan, yang mengatakan AS telah mulai berkomunikasi dengan Iran atas penahanan warga AS oleh Teheran.
Ancaman tersebut adalah langkah terbaru dalam permainan Teheran di ambang batas atas Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), perjanjian untuk mengekang program nuklirnya dengan imbalan pelonggaran sanksi ekonomi.
Kesepakatan penting tahun 2015 telah digantung sejak keputusan Donald Trump untuk menarik diri darinya pada tahun 2018 dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Teheran.
Pemerintah Iran menolak usulan Presiden Prancis, Emmanuel Macron tentang perlunya kesepakatan nuklir baru dengan Teheran.
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menepis tudungin Prancis yang menyebut Teheran sedang membangun senjata nuklir.
Sanksi itu adalah yang terbaru dari serangkaian tindakan yang bertujuan untuk meningkatkan tekanan pada Teheran di hari-hari memudarnya pemerintahan Presiden Donald Trump, yang berakhir pada 20 Januari.
Pengayaan dimulai "beberapa jam yang lalu" di fasilitas nuklir bawah tanah Fordo di selatan ibukota Teheran.
Rencana tersebut merupakan yang terbaru Iran kepada IAEA bahwa pihaknya berencana melanggar kesepakatan pakta nuklir 2015 sebagai pembalasan atas penarikan Amerika Serikat (AS) dari perjanjian dan penerapan kembali sanksi terhadap Teheran.
Seorang ilmuwan nuklir Iran yang telah lama dicurigai oleh Barat sebagai dalang program senjata atom rahasia dibunuh di dekat Teheran