Ketua parlemen Iran menegaskan bahwa Teheran tidak akan pernah menyerahkan gambar situs nuklir ke pengawas nuklir PBB, IAEA, mengingat perjanjian pemantauan dengan badan tersebut telah berakhir.
Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, mendesak Amerika Serikat (AS) dan sekutunya bangkit terhadap ancaman Iran, di saat pembicaraan mengenai pembatasan nuklir Teheran terus bergulir.
Pernyataan pada Selasa itu datang ketika Teheran dan Washington mengadakan pembicaraan tidak langsung di Wina yang bertujuan menemukan cara untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan kekuatan dunia.
Presiden Donald Trump memberlakukan kembali sanksi, dan Teheran mulai menolak mematuhi batasan perjanjian tentang pengayaan uraniumnya.
Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menyebut Iran gagal menjelaskan jejak uranium olahan di beberapa situs, yang tidak diumumkan oleh Teheran.
IAEA telah merencanakan untuk Grossi mengadakan konferensi pers pada hari Minggu tetapi dikatakan dia masih "berkonsultasi dengan Teheran" dan bahwa konferensi persnya telah ditunda hingga Senin pagi.
Doha mendesak pengurangan ketegangan antara Washington dan Teheran ketika diplomat kedua belah pihak bertemu secara terpisah Jumat di Wina dengan perwakilan Eropa, Rusia dan China untuk menemukan cara menghidupkan kembali perjanjian nuklir Iran.
Kejadian ini sehari setelah Teheran meluncurkan sentrifugal pengayaan uranium canggih baru di situs tersebut.
Pemerintahan baru Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden mengindikasikan pihaknya siap kembali memasuki kesepakatan nuklir setelah Donald Trump keluar pada tahun 2015, tetapi sejauh ini belum ada tanda-tanda terobosan apa pun karena Teheran meningkatkan pekerjaan nuklirnya.
Pembatalan itu diputuskan setelah Teheran mengancam untuk mengakhiri kesepakatan nuklir dengan Badan Atom Internasional (IAEA).