Iran dan negara-negara besar sedang mencoba, dalam pembicaraan di Wina, untuk menghidupkan kembali kesepakatan 2015 di mana Teheran membatasi program nuklirnya dengan imbalan bantuan dari sanksi ekonomi AS, Uni Eropa dan PBB.
Pengumuman itu tampaknya melemahkan pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Israel sangat khawatir kekuatan dunia akan menghapus sanksi terhadap Iran dengan imbalan pembatasan yang tidak memadai pada program nuklir Negeri Para Mullah itu.
Pendahulu Biden, Donald Trump, meninggalkan kesepakatan pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi AS. Keputusan itu lantas membuat Iran mulai melanggar batas nuklirnya.
Kelompok Syiah yang didukung Iran terus mengancam serangan teroris dan memberikan dukungan kepada organisasi teroris dan menimbulkan ancaman nyata dan kredibela bagi Australia.
Negosiasi tidak langsung akan dimulai pada 29 November mendatang terkait upaya menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015.
Undang-undang Kependudukan dan Perlindungan Keluarga Muda mulai berlaku pada Senin (15/11) dalam upaya untuk mendorong tingkat kelahiran lebih tinggi karena Iran menghadapi krisis yang membayangi karena populasinya yang menua.
Pembicaraan tidak langsung antara Iran dan AS, yang terhenti pada Juni setelah pemilihan Presiden garis keras Iran Ebrahim Raisi, akan dilanjutkan pada 29 November di Wina untuk menemukan cara untuk memulihkan kembali kesepakatan 2015.
Pesawat juga terbang di atas Selat Hormuz, sebuah chokepoint untuk seperlima dari produksi minyak dunia di ujung Teluk yang dianggap Iran sebagai wilayah pengaruh strategis.
Pada musim panas 1988, rezim Iran melakukan eksekusi massal rahasia terhadap 30.000 tahanan politik, 90 persen di antaranya adalah anggota kelompok oposisi utama Iran, Mujahidin-e-Khalq.