Presiden Turki, Recep Tayyib Erdogan menyatakan masih memiliki dinamika ekonomi yang solid dan kuat di tengah-tengah serangan ekonomi yang terjadi kepada negara tersebut.
Turki dan AS saat ini sedang mengalami ketegangan hubungan berbatu setelah Washington menjatuhkan sanksi pada Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu dan Menteri Kehakiman Abdulhamit Gul karena tidak melepaskan Pendeta Amerika Andrew Brunson, yang menghadapi tuduhan terkait terorisme di Turki.
Erdogan menyebut AS telah menusuk Turki dari belakang. Padahal kedua negara merupakan mitra strategis, dan sama-sama menduduki anggota NATO.
Soal perusahaan-perusahaan Iran di pabrik minyak, gas dan listrik, ia mengatakan, Irak yang mengikuti sanksi AS terhadap Iran akan sangat merugikan ekonominya.
Bank sentral Turki mengatakan pihaknya siap untuk mengambil semua langkah yang diperlukan demi memastikan stabilitas keuangan menyusul runtuhnya nilai lira.
Hal itu dilakukan demi meredam ketakutan pasar, pasca `plot licik` yang dilancarkan Amerika Serikat.
Turki berdiri untuk keamanan dan keandalan di Eropa, kata Menteri Ekonomi Peter Altmaier
Altmaier memperingatkan konsekuensi perang perdagangan AS-China, dan menyatakan keprihatinan tentang keputusan Trump menaikkan tarif logam Turki
Erdogan mengatakan Turki memiliki alternatif sekutu baru seperti Iran, Rusia, China dan beberapa negara Eropa lainnya, jika AS mulai merusak hubungan kedua negara.
Erdogan juga mengancam akan mencari sekutu dan pasar baru.