Hidayat melanjutkan para ulama juga berperan besar dalam menyelamatkan Pancasila dan NKRI
Dihadapan Masyarakat Mampang dan sekitarnya, Hidayat antara lain mengatakan, dalam sejarahnya bangsa Indonesia sudah dua kali memproklamirkan kemerdekaan nya. Masing 17 Agustus 1945 dan 17 Agustus 1950
Hidayat tak lupa mengajak masyarakat untuk mendoakan para korban. Khususnya kepada satu korban asal Indonesia yang meninggal, dan satu lagi yang masih dirawat di rumah sakit. Doa dipanjatkan dengan membacakan Ummul kitab, yang dilafalkan oleh seluruh peserta.
Hidayat menambahkan agar pemberian insentif ini tak membebani anggaran negara, maka disiapkan alokasi khusus di dalam anggaran dana Desa atau Kelurahan.
Dari proses yang ada, HNW menyebut bahwa sosialisasi itu sesungguhnya jihad dari seluruh pimpinan MPR dari periode ke periode. “Ini kerja keras semua pimpinan MPR”, ucapnya.
Hidayat mengajak masyarakat berpartisipasi aktif dalam Pemilu 17 April. Terutama ikut mengawasi kemungkinan adanya orang-orang yang tidak berhak ikut memilih
Hidayat juga menyampaikan harapannya, agar pemerintah Tiongkok bisa segera menyelesaikan persoalan muslim Uighur. Sebagaimana Indonesia menyelesaikan persoalan berbagai masalah keberagaman dan isu mayoritas minoritas.
Diakui di Indonesia ada banyak sekolah Islam di mana semua memberi manfaat yang besar. Hadirnya STIS Al Wafa diharapkan mampu memperbanyak hadirnya ahli ekonomi sehingga mampu memperbaiki perekonomian bangsa.
Cinta kemerdekaan dan anti penjajahan tidak hanya melahirkan sosok pahlawan, nama Jakarta dikatakan HNW juga menunjukan arti kemenangan dari penjajahan.
Tetapi, sikap seperti itu kata Hidayat tidak muncul. Sebaliknya, para ulama setuju, mereka mau menerima usulan AA. Maramis, dan menghapus tujuh kata dalam piagam Jakarta, sehingga bunyinya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa