https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Mengungkap Larangan Sakral di Bulan Suro Versi Tradisi Jawa

Vaza Diva | Sabtu, 28/06/2025 14:01 WIB



Ini larangan yang sebaiknya tidak dilakukan ketika bulan Muharram atau Suro Ilustrasi - beberapa larangan sakral yang dilarang untuk dilakukan pada bulan Suro atau Muharram (Foto: YPSA)

Jakarta, Jurnas.com - Bulan Suro, yang merupakan padanan dari Muharram dalam kalender Hijriah, memiliki kedudukan istimewa dalam budaya Jawa.

Dianggap sebagai bulan penuh kesakralan dan ketenangan batin, Suro menjadi waktu bagi masyarakat Jawa untuk melakukan perenungan diri dan memberikan penghormatan kepada para leluhur.

Ragam ritual yang diwariskan dari generasi ke generasi masih dijaga hingga kini, mencerminkan kuatnya akar spiritual dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Baca juga :
Kemenag Minta Maaf, Jelaskan Konteks Busana Adat Aceh Dipakai Menag

Momentum ini tidak hanya menandai tahun baru Jawa, namun juga dianggap sebagai fase untuk membersihkan diri dari berbagai energi negatif.

Sebagai bagian dari keyakinan kultural, muncul berbagai pantangan yang diyakini dapat membawa malapetaka jika dilanggar.

Baca juga :
Baleg DPR Segera Sahkan RUU Masyarakat Adat

Di antaranya adalah larangan mengadakan pesta pernikahan, bepergian jauh, atau berbicara dengan suara tinggi. Meskipun tidak semua kalangan mengikuti secara ketat, aturan-aturan ini tetap dihormati sebagai bagian dari etika tradisi.

Meski sebagian menganggapnya sebagai mitos atau bertentangan dengan ajaran Islam, praktik budaya ini tetap dijalankan oleh banyak orang sebagai bentuk pelestarian nilai-nilai leluhur.

Baca juga :
Baleg DPR Integrasikan RUU Masyarakat Adat dengan Satu Data Indonesia

Bagi masyarakat Jawa, Bulan Suro bukan sekadar awal kalender baru, melainkan momentum spiritual yang mengandung filosofi kehidupan mendalam.

Melansir dari berbagai sumber, berikut ini pantangan dalam Bulan Suro menurut Tradisi Jawa:

1. Dilarang mengadakan pesta atau hajatan besar

Pantangan paling umum adalah menggelar acara besar seperti pernikahan, khitanan, atau syukuran. Menurut tradisi, pesta di bulan Suro dapat mendatangkan sial atau gangguan makhluk halus karena waktu ini dianggap suci dan tidak untuk bersenang-senang.

2. Larangan pindah atau membangun rumah

Memulai pemindahan tempat tinggal atau pembangunan rumah dianggap tidak menguntungkan dan dapat mengganggu energi spiritual. Masyarakat percaya tindakan tersebut membawa kesialan atau halangan di masa mendatang.

3. Tidak boleh bepergian jauh tanpa alasan penting

Kepercayaan umum menyebut bahwa perjalanan jauh—terutama pada malam 1 Suro—berisiko tinggi dan dapat mengundang gangguan gaib atau kecelakaan. Makanya, banyak orang menunda perjalanan penting.

4. Larangan berbicara keras, berkata kasar, atau berisik

Menjaga ketenangan lisan jadi penting pada malam 1 Suro dan sepanjang bulan. Ucapan kasar atau gaduh dipercaya akan menarik energi negatif atau perhatian makhluk halus.

5. Dilarang memotong kuku atau rambut malam hari

Tradisi ini muncul karena dipercaya membuka ruang spiritual yang tidak baik, memudahkan gangguan makhluk tak kasatmata ketika melakukan ritual malam.

6. Tidak mengadakan acara publik (hajatan desa, pesta seni)

Selain pesta pribadi, hajatan umum seperti festival atau pertunjukan seni juga dihindari karena dianggap mengusik kewajiban refleksi dan penyucian batin.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

tradisi Jawa Bulan Suro Muharram Adat

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777