https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Berkat Formasi Ini, Ancelotti Pernah Bawa Milan Rajai Eropa

Mutiul Alim | Minggu, 08/06/2025 17:01 WIB



Pada awal 2000-an, saat banyak klub elite Eropa berlomba menerapkan pressing tinggi dan sepak bola cepat, AC Milan justru tampil tenang namun mematikan. Kaka memeluk pelatih Carlo Ancelotti (Foto: AFP via Getty Images)

Jakarta, Jurnas.com - Pada awal 2000-an, saat banyak klub elite Eropa berlomba menerapkan pressing tinggi dan sepak bola cepat, AC Milan justru tampil tenang namun mematikan.

Semua itu berkat kecermatan Carlo Ancelotti dalam meracik ulang kekuatan timnya, menjadikan formasi 4–1–2–1–2 atau yang dikenal dengan sebutan diamond midfield sebagai pondasi utama, meninggalkan 4-4-2 klasik pada zamannya.

Ancelotti bukan pelatih yang terobsesi pada formasi, tetapi dia tahu persis cara memaksimalkan karakter pemainnya. Dia melihat sesuatu yang belum tentu dilihat pelatih lain pada Andrea Pirlo.

Baca juga :
Sergio Conceicao Spill Beratnya Melatih AC Milan

Alih-alih memainkan Pirlo sebagai gelandang serang seperti di klub sebelumnya, Ancelotti menurunkannya jauh ke belakang, menempatkan sang maestro sebagai jenderal di depan empat bek.

Peran ini kemudian dikenal sebagai regista, otak permainan yang memulai serangan dari kedalaman. Dengan Pirlo sebagai poros, Milan memiliki kemampuan luar biasa dalam mengendalikan tempo laga/

Baca juga :
Antonio Conte Bangga Napoli Taklukkan AC Milan

Di depannya, dua gelandang pekerja keras seperti Gennaro Gattuso dan Clarence Seedorf memberikan keseimbangan. Gattuso memastikan pertahanan tetap solid dengan tekanan konstan pada lawan, sementara Seedorf menyumbang kreativitas dan visi permainan.

Puncak formasi berlian ini diisi oleh Rui Costa, dan kemudian oleh Kaka, yang menjelma menjadi simbol modern trequartista, yaitu pemain yang beroperasi bebas di belakang dua penyerang untuk menciptakan ruang, umpan, dan bahkan mencetak gol.

Baca juga :
Kaka Optimistis Timnas Brasil Bersinar di Tangan Ancelotti

Formasi ini memberikan struktur yang solid namun fleksibel. Milan tidak membutuhkan pemain sayap karena pergerakan vertikal yang tajam dari tengah sudah cukup untuk membongkar pertahanan lawan.

Kaka bisa menusuk langsung ke jantung pertahanan, Shevchenko bergerak melebar untuk membuka ruang, dan Inzaghi menunggu di dalam kotak dengan naluri tajamnya. Semua elemen ini membuat Milan tidak mudah dibaca dan sulit dikalahkan.

Kejayaan yang diraih Milan selama menggunakan sistem ini pun bukan isapan jempol. Di bawah Ancelotti, Rossoneri menjuarai Liga Champions pada musim 2002/03 dan 2006/07, mengalahkan dua sesama raksasa Eropa, Juventus dan Liverpool.

Rossonerri juga menjuarai Piala Super Eropa dua kali, Coppa Italia, dan Piala Dunia Antarklub pada 2007. Bahkan kekalahan dramatis mereka dari Liverpool di final 2005 tetap dikenang sebagai salah satu babak pertama terbaik dalam sejarah sepak bola Eropa.

Yang membuat formasi ini bertahan lama adalah kecanggihan taktis yang menyatu dengan karakter pemain. Ancelotti tak sekadar meminta pemain mengisi peran tertentu, dia menyusun sistem yang memaksimalkan kekuatan alami tiap individu.

Itu sebabnya ketika Kaka menerima bola di antara lini tengah dan bek lawan, seluruh tim seperti terhubung secara instingtif. Kombinasi pengalaman, intelegensi, dan kestabilan membuat Milan tampil menawan namun efisien.

Formasi berlian ini kemudian diadaptasi oleh banyak pelatih generasi berikutnya, dari Massimiliano Allegri hingga Zinedine Zidane. Namun, versi paling ikonik tetap milik Ancelotti dan AC Milan.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Formasi Berlian Carlo Ancelotti AC Milan

Terkini | Rabu, 17/06/2026 14:22 WIB

News

PPATK Minta Tanbahan Anggaran Rp516,4 Miliar untuk Tahun 2027

Info Desa

Rakernas PPDI, Mendes Ajak Perangkat Desa Kawal Asta Cita Presiden Prabowo

News

Optimalkan Pemberantasan TPPU, PPATK Usul Tambahan Anggaran Rp516,4 M

News

Polri Ajukan Tambahan Anggaran Sebesar Rp66,1 Triliun untuk 2027

News

RS Harus Berikan Layanan Inklusif dan Berkualitas untuk Semua Kalangan

News

Dolfie Minta DJP Susun Klaster Penghasilan untuk Ukur Kesejahteraan Rakyat

News

Anggota DPR: Nobar Piala Dunia Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lokal dan UMKM

News

Polri Ajukan Tambahan Anggaran Rp66,1 Triliun di RAPBN 2027

News

Filipina Kucurkan Rp106,52 Miliar untuk Pemulihan Gempa Mindanao

News

Pengungsi Mulai Kembali ke Lebanon Menyusul Kesepakatan Iran-AS

News

Libur Sekolah, InJourney Airports Siap Layani 5,46 Juta Penumpang

News

Dua Lansia Terluka Akibat Kebakaran Rumah di Setiabudi Jaksel

News

Polisi Siapkan 4.576 Personel Gabungan Amankan Demo di Jakarta

Gaya Hidup

Studi: Alam Semesta Mengembang Lebih Cepat, Energi Gelap Masih jadi Misteri

News

Kenapa Kelahiran Nabi Muhammad Tidak Jadi Penanda Tahun Baru Islam?

News

Pemberantasan Korupsi Tak Maksimal jika Tak Ada Perbaikan pada Sistem

News

Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta Terburuk Ketiga di Dunia

News

Migas Rp2,6 T di Kawasan Transmigrasi, Kementrans: Rakyat Harus Ikut Untung

Terpopuler

Minggu, 14/06/2026 02:02 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Belanda vs Jepang

Senin, 15/06/2026 01:01 WIB
Olahraga

Pelatih Turki Kecewa Timnya Kalah Lawan Australia

Minggu, 14/06/2026 12:10 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Jerman vs Timnas Curacao

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777