Illustrasi santri sedang belajar kitab kuning di salah satu Pondok Pesantren. (Foto istimewa/Jurnas)
Jakarta, Jurnas.com - Sejarah panjang perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari kontribusi besar para santri dan ulama.
Dari bilik-bilik pesantren di berbagai penjuru Nusantara, lahir para pejuang yang tidak hanya membekali diri dengan kedalaman ilmu keagamaan, tetapi juga berdiri di garis depan dalam melawan imperialisme.
Peran kalangan santri mencakup perjuangan bersenjata hingga perumusan fondasi kebangsaan. Berikut ini sepuluh Pahlawan Nasional Indonesia yang memiliki latar belakang tradisi pesantren dan santri:
Pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur ini merupakan tokoh kunci dalam pergerakan kemerdekaan.
Beliau mencetuskan fatwa "Resolusi Jihad" pada 22 Oktober 1945, yang mewajibkan umat Islam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan memicu peristiwa perlawanan rakyat dalam Pertempuran 10 November di Surabaya.
Pendiri organisasi Muhammadiyah ini menimba ilmu agama di berbagai pesantren lokal sebelum melanjutkan studi ke Tanah Suci Mekkah.
KH. Ahmad Dahlan memelopori pembaharuan sistem pendidikan Islam dengan menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum, serta membangun jaringan pelayanan sosial dan kesehatan untuk masyarakat.
Putra dari KH. Hasyim Asy`ari ini merupakan tokoh muda berbakat dari tradisi pesantren yang berperan aktif dalam perumusan dasar negara.
Beliau menjadi salah satu anggota termuda dalam BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan Panitia Sembilan, serta kelak menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia pertama.
Pemimpin Perang Jawa (1825–1830) ini menghabiskan masa mudanya dengan mendalami ilmu agama dan bertirakat di Pesantren Tegalrejo di bawah bimbingan neneknya, Ratu Ageng.
Pendidikan pesantren membentuk karakter dan spiritualitas Pangeran Diponegoro hingga menjadi pemimpin perlawanan terbesar melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda di Pulau Jawa.
Pengasuh Pesantren Sukamanah di Tasikmalaya, Jawa Jawa Barat ini dikenal atas keberaniannya memimpin perlawanan bersenjata terhadap penjajahan Jepang pada tahun 1944.
Beliau menolak secara tegas perintah Seikerei (membungkukkan badan ke arah matahari sebagai penghormatan kepada Kaisar Jepang) karena dinilai bertentangan dengan aqidah Islam.
Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi`iyah di Situbondo ini merupakan sosok ulama yang menggerakkan laskar-laskar santri di kawasan Jawa Timur.
Beliau bertindak sebagai perantara pesan penting dari para kiai sepuh dalam proses pendirian NU serta memimpin pertempuran fisik melawan pasukan sekutu dan Belanda.
Tokoh reformis Muhammadiyah ini mengenyam pendidikan di Pesantren Demak sebelum melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.
Dalam pergerakan nasional, KH. Mas Mansyur masuk dalam kelompok "Empat Serangkai" bersama Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hajar Dewantara yang memimpin Pusat Tenaga Rakyat (Putera).
Buya Hamka, yang memiliki nama lengkap Abdul Malik Karim Amrullah, merupakan ulama, sastrawan, wartawan, dan pendidik yang memberikan pengaruh besar bagi masyarakat Indonesia.
Lahir di Sumatera Barat pada 17 Februari 1908, ia aktif dalam Muhammadiyah dan kemudian dipercaya menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama.
Haji Agus Salim merupakan cendekiawan Muslim, diplomat, dan tokoh pergerakan nasional yang berperan penting dalam memperjuangkan kepentingan Indonesia setelah kemerdekaan.
Ia menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) dan Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia serta dikenal sebagai salah satu lulusan terbaik HBS se-Hindia Belanda.
Dalam perjalanan pengabdiannya, Agus Salim aktif di Sarekat Islam dan Partai Masyumi, serta pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri yang memperjuangkan pengakuan internasional bagi Indonesia.
Tokoh pergerakan nasional yang pernah menimba ilmu di Pesantren Modern Darussalam Gontor ini memiliki peran penting dalam politik pemerintahan pascakemerdekaan.
Beliau pernah mengemban amanah sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia, Ketua DPR/MPR RI, serta memimpin PBNU selama hampir tiga dekade.
Rabu, 21/10/2026 22:19 WIB
Selasa, 20/10/2026 08:35 WIB
Sabtu, 17/10/2026 08:35 WIB
Jum'at, 16/10/2026 20:42 WIB
Jum'at, 09/10/2026 13:05 WIB