Bendera Iran berkibar di depan gedung reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr. (Foto: AP Photo/Vahid Salemi)
Jakarta, Jurnas.com - Parlemen Iran menyetujui pengangkatan Mehrdad Akhlaqi Ketabchi sebagai menteri pertahanan baru pada Minggu (18/10).
Setelah mendapat persetujuan, Akhlaqi memperingatkan Amerika Serikat dan Israel bahwa Iran akan memberikan respons luas jika kembali diserang, sekaligus mengklaim negaranya telah menyiapkan langkah untuk menghadapi kemungkinan penggunaan bom konvensional terbesar milik AS.
Lembaga penyiaran negara Iran, IRIB, melaporkan Akhlaqi memperoleh 237 suara dukungan dan 15 suara penolakan, tanpa abstain. Pemungutan suara berlangsung dalam sidang parlemen melalui konferensi video, dengan 277 suara tercatat.
Sebelum pemungutan suara, para anggota parlemen mendengarkan argumen dari pihak yang mendukung maupun menentang Akhlaqi serta meninjau rencana kerjanya untuk Kementerian Pertahanan.
Akhlaqi menggantikan Aziz Nasirzadeh, yang tewas dalam serangan awal Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Setelah kematian Nasirzadeh, Majid Ebn al-Reza menjalankan tugas sebagai pelaksana tugas menteri pertahanan.
Dalam pernyataan pertamanya setelah memperoleh persetujuan parlemen, Akhlaqi mengatakan Iran telah mengambil langkah untuk menghadapi kemungkinan Amerika Serikat menggunakan GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB), bom konvensional yang dikenal dengan julukan Mother of All Bombs.
“Kami telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghadapi tindakan semacam itu dan melanjutkan pekerjaan kami dengan penuh keyakinan,” kata Akhlaqi kepada wartawan.
Ia juga melontarkan peringatan kepada Presiden AS Donald Trump agar mempertimbangkan keselamatan pasukan Amerika yang berada di kawasan tersebut.
“Jika dia menjatuhkan satu bom, dia harus melihat berapa banyak pasukannya yang harus dibawa keluar dari kawasan itu dalam posisi horizontal,” ujarnya. Pernyataan tersebut tampaknya merujuk pada kemungkinan jatuhnya korban di kalangan militer AS jika serangan dilakukan.
Akhlaqi mengklaim persiapan pertahanan Iran menjadi salah satu alasan Washington sejauh ini belum menggunakan bom tersebut. Ia memperingatkan situasi akan berbeda jika ancaman AS benar-benar diwujudkan menjadi serangan.
Sebelum pemungutan suara parlemen, Akhlaqi juga memperingatkan bahwa Iran akan memberikan balasan yang mengejutkan dan berskala luas jika Amerika Serikat dan Israel kembali melancarkan serangan.
“Jika musuh Amerika-Zionis sekali lagi melakukan kesalahan perhitungan, respons bangsa Iran dan para pejuang Islam akan mengejutkan dan luas,” kata Akhlaqi di hadapan anggota parlemen.
Ia menambahkan, Washington dan sekutunya akan bertanggung jawab atas konsekuensi regional maupun internasional yang mungkin timbul dari serangan baru terhadap Iran.
Dalam pidatonya, Akhlaqi mengatakan dirinya telah masuk dalam daftar target pembunuhan musuh selama 35 tahun. Ia juga berjanji memperkuat apa yang disebut Iran sebagai “front perlawanan”, istilah yang digunakan Teheran untuk menggambarkan jaringan kelompok dan sekutu yang mendukung kepentingannya di kawasan.
Sebagai menteri pertahanan, Akhlaqi menetapkan sejumlah prioritas, termasuk memperluas produksi pertahanan melalui jaringan industri Iran, meningkatkan penelitian, serta menyesuaikan struktur Kementerian Pertahanan dengan ancaman keamanan saat ini.
Latar belakangnya berkaitan erat dengan sektor pertahanan Iran. Akhlaqi merupakan pejabat senior Kementerian Pertahanan yang telah lama berkiprah dan sebelumnya memimpin Organisasi Industri Dirgantara Iran.
Ia juga telah dikenai sanksi Amerika Serikat terkait keterlibatannya dalam aktivitas yang berhubungan dengan program rudal Iran. (*)
Sumber: Anadolu
Sabtu, 17/10/2026 08:35 WIB
Jum'at, 16/10/2026 20:42 WIB
Jum'at, 09/10/2026 13:05 WIB