Forum pertahanan Amerika Serikat-China (Foto: Reuters)
Peking, Jurnas.com - Sejumlah delegasi dalam konferensi pertahanan Beijing Xiangshan Forum menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang tidak terawasi, serta persaingan teknologi yang berpotensi memperparah risiko keamanan global.
Peringatan tersebut mengemuka di tengah persiapan KTT bilateral antara dua kekuatan AI terbesar dunia, China dan Amerika Serikat, yang masih belum menemukan kesepakatan terkait kendali sistem militer berbasis AI.
Para panelis dalam forum pertahanan internasional tersebut menilai keberadaan AI telah mempercepat proses pengambilan keputusan militer secara signifikan, di saat yang sama ketika penyebaran disinformasi mengikis kepercayaan publik.
"Hari ini dunia berada di titik balik yang kritis. Persaingan strategis antar kekuatan utama semakin nyata, sementara konflik di berbagai wilayah terus berlanjut," ujar Menteri Pertahanan Thailand Adul Boonthumjaroen dikutip dari Reuters pada Kamis (17/9).
Dia juga menegaskan bahwa hal paling mendesak saat ini bukanlah kompetisi kekuatan, melainkan pembentukan tatanan internasional untuk mengendalikan teknologi tersebut.
Konferensi tiga hari ini dihadiri sekitar 2.000 perwira militer, diplomat, dan akademisi dari 100 negara, termasuk perwakilan Pentagon, delegasi Korea Utara, akademisi Rusia, hingga utusan Taliban.
Wakil Presiden Komite Internasional Palang Merah (ICRC), Jurg Lauber, mengimbau pentingnya mempertahankan kontrol dan pertimbangan manusia dalam penggunaan kekuatan militer seiring meningkatnya sistem senjata otonom. Dia juga menyoroti penggunaan drone berbiaya murah yang secara mendasar telah mengubah peta pertempuran modern.
Pandangan senada disampaikan Sekretaris Pertahanan Pakistan Muhammad Ali yang menilai kemajuan teknologi telah memangkas garis waktu keputusan strategis. Peneliti dan pejabat dari Bangladesh, Malaysia, serta Laos turut menyampaikan keprihatinan atas dampak luas penggunaan AI dalam sektor pertahanan.
Meski China dan Amerika Serikat sama-sama mengkhawatirkan risiko AI terhadap sistem persenjataan, termasuk senjata nuklir, kedua negara masih berbeda pandangan mengenai kerangka regulasi dan pedoman pengawasan yang harus diterapkan.
Minggu, 13/09/2026 11:35 WIB
Kamis, 17/09/2026 05:05 WIB