Kekeringan akibat fenomena El Nino global (Foto: AFP)
Jenewa, Jurnas.com - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB memperingatkan bahwa siklus air bumi kini semakin ekstrem dan tidak terprediksi. Fenomena El Nino yang mencapai rekor terkuat diproyeksikan bakal memperparah krisis perubahan iklim global.
Laporan tahunan State of Global Water Resources mencatat bahwa 2025 menjadi salah satu periode terkering bagi aliran sungai dunia dalam lebih dari tiga dekade terakhir.
Selain penurunan volume air sungai, laporan WMO menyoroti pencairan gletser yang terjadi secara masif di seluruh wilayah serta penurunan berkelanjutan pada cadangan air tanah (groundwater) selama bertahun-tahun.
"Gletser dan air tanah merupakan rekening tabungan planet ini yang berfungsi sebagai penyangga saat terjadi kekeringan. Namun saat ini kita terus menguras rekening tabungan tersebut dan menghabiskan cadangan kita," kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo, dikutip dari AFP pada Kamis (17/9).
Sepanjang periode 2023 hingga 2025, gletser di seluruh dunia tercatat kehilangan massa es kumulatif hingga 1,400 gigaton air. Jumlah tersebut setara dengan volume air yang dibutuhkan untuk mengisi 560 juta kolam renang ukuran olimpiade.
Sementara itu, di saat bersamaan hampir dua pertiga sumur pantau air tanah secara global menunjukkan kondisi abnormal di luar batas historis.
Fenomena El Nino terbaru, yang dikonfirmasi sebagai yang terkuat sejak pencatatan empat dekade lalu, diproyeksikan memperbesar risiko kekeringan ekstrem di sejumlah wilayah sekaligus memicu banjir bandang di kawasan lain.
Data WMO mencatat hanya 36 persen DAS di seluruh dunia yang berada dalam kondisi debit normal sepanjang 2025. WMO mendorong pentingnya transparansi dan kolaborasi data peringatan dini antarnegara, mengingat bencana gletser dan krisis aliran sungai kerap melintasi batas-batas teritorial wilayah administratif.
Minggu, 13/09/2026 11:35 WIB
Kamis, 17/09/2026 05:05 WIB